![Ilustrasi longmarch Pasukan Batalion Siluman Merah. [Gemini]](https://lampau.id/wp-content/uploads/2025/11/siluman-merah-batalion.jpg)
Hai Jadoelers! Kami mau ngebahas kisah longmarch Batalion Siluman Merah Divisi Siliwangi. Longmarch dilaksanakan Batalion Siluman Merah dari Jawa Tengah ke Jawa Barat.
Banyak cerita menarik di balik longmarch pasukan Batalion Siluman Merah.
Salah satunya adalah kejadian mistis yang dialami pasukan Batalion Siluman Merah saat di dalam hutan.
Batalion Siluman Merah adalah batalion yang berada di bawah naungan Divisi Siliwangi. Komandan Batalionnya adalah Kapten Achmad Wiranakusumah.
Batalion ini awalnya bernama Batalion III Resimen 8. Kemudian terjadi reorganisasi di tubuh Divisi Siliwangi. Kesatuan-kesatuan diberi nama batalion 1 sampai 36.
Batalion III Resimen 8 pimpinan Achmad diubah namanya menjadi Batalion 26 Brigade Guntur II. Bertindak sebagai Komandan Brigade adalah Daan Yahya.
Adanya reorganisasi ini membuat penurunan pangkat perwira. Achmad yang tadinya berpangkat mayor turun menjadi kapten.
Batalion 26 ini menggunakan pangkat di bahu. Sebelumnya tanda pangkat disematkan di dada seperti tentara Jepang.
Batalion Achmad mendapat julukan sebagai Batalion Siluman Merah. Julukan ini datang dari tentara Belanda.
Ini dikarenakan Batalion Achmad sering melakukan serangan mendadak ke tentara Belanda. Serangan ini senyap karena tidak diketahui ada tanda-tanda penyerangan.
Begitu dikejar, pasukan ini sudah menghilang. Belanda tidak bisa mendeteksi dari mana arah datang dan menghilangnya pasukan Achmad. Inilah yang membuat Belanda menyebutnya seperti Siluman.
Achmad sebagai komandan batalion lalu menambah sebutan batalionnya dengan Siluman Merah. Kata merah berasal dari Red Devil, kesatuan baret merah Resimen paratroop tentara Inggris.
Lambang Red Devil adalah kepala Indian dan Bintang. Kepala Indian diganti oleh Achmad dengan kepala siluman.

Pasukan Siluman Merah ikut dalam peperangan di masa revolusi. Mereka pernah berperan di Bandung Lautan Api.
8 Desember 1947, Indonesia memulai perundingan dengan Belanda. Perundingan ini berujung pada penandatanganan perjanjian Renville.
Salah satu isi perjanjian Renville, adalah menarik tentara dari Jawa Barat dan Jawa Timur. Akibatnya pasukan Divisi Siliwangi yang berada di Jawa Barat harus hijrah ke Jawa Tengah.
Pasukan Batalion Siluman Merah mempertanyakan keputusan hijrah ini. Selama ini mereka sudah bertempur habis-habisan melawan Belanda di Bandung Selatan. Mereka merasa masih mampu mempertahankan wilayahnya dari serangan Belanda.
“Namun mengapa kami harus meninggalkan Bandung Selatan?” pertanyaan ini menyeruak di benak pasukan Batalion Siluman Merah.
Namun karena itu adalah perintah, mau tak mau pasukan Siluman Merah ikut hijrah ke Jawa Tengah.
Siluman Merah meninggalkan basis pertahannya di Barutunggul, Ciwidey, menuju Jawa Tengah. Pasukan diangkut truk-truk Belanda menuju Soreang.
Kepergian pasukan Siluman Merah diiringi rasa sedih warga dan anggota keluarga. Rombongan Siluman Merah yang hijrah mencapai 600 orang.
Kemungkinan inilah batalion terbesar yang hijrah ke Jawa Tengah. Batalion lain yang ikut hijrah hanya berjumlah 300 orang. Batalion ini ditempatkan di Yogyakarta.
Para anggota keluarga Divisi Siliwangi ikut menyusul ke Jawa Tengah. Selama hijrah, Batalion Siluman Merah ikut dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun.
Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer kedua. Kota Yogyakarta dibombardir pesawat pembom Belanda.
Dalam waktu singkat, Belanda berhasil menduduki kota Yogyakarta. Belanda menawan Presiden Soekarno dan Wapres Mohammad Hatta.
Tidak hanya Yogyakarta, pasukan Belanda menguasai semua kota di Jawa Tengah. Pasukan TNI masuk ke pedalaman memutuskan bergerilya.
Panglima Besar Jenderal Sudirman lalu mengeluarkan surat perintah. Isinya memerintahkan Divisi Siliwangi segera kembali ke Jawa Barat.
Tujuannya untuk mengisi kembal kantong-kantong gerilya di Jawa Barat melawan Belanda. Maka Divisi Siliwangi melakukan perjalanan panjang secara besar-besaran dari Jawa Tengah ke Jawa Barat.
Perjalanan ini disebut dengan longmarch Divisi Siliwangi. Longmarch dimulai sejak 19 Desember 1948 hingga Februari 1949. Longmarch ini penuh perjuangan dan penderitaan.
Kisah longmarch pasukan Batalion Siluman Merah ini diceritakan dalam buku Letjen TNI (Purn) Achmad Wiranatakusumah Komandan Siluman Merah.
Batalion Siluman Merah direncanakan menuju Bandung Selatan dan Garut Selatan. Siluman Merah berangkat dari markasnya di Colomadu, Solo.
Kepala Staf Divisi Siliwangi Letkol Daan Yahya memerintahkan Silluman Merah mengawal staf Divisi Siliwangi dan keluarganya.
Divisi Siliwangi ikut membawa keluarganya longmarch ke Jawa Barat. Jumlah rombongan longmarch sekitar 2.500 orang. Rombongan Longmarch Siliwangi ini terbesar dan terpanjang.
Dari Solo, rombongan menggunakan kereta api ke Prambanan. Dari Prambanan, rombongan jalan kaki ke Jawa Barat.
Para perwira staf divisi memerintahkan pasukan menghindari kontak dengan Pasukan Belanda. Ini dilakukan untuk menyelamatkan anggota staf divisi agar sampai tujuan.
Untuk menghindari pertempuran, pasukan naik ke Gunung Slamet. Mereka harus membabat hutan lebat untuk membuat jalan.
Di tengah jalan, pasukan bertemu pasukan DI/TII. Namun tidak terjadi pertempuran antara kedua belah pihak. Bahkan pasukan Siluman Merah dijamu makan oleh pasukan DI/TII.
Di daerah Gunung Sawal, keberadaan Siluman Merah terdeteksi pasukan Belanda. Belanda menggempur Siluman Merah yang sedang mendaki Gunung Sawal.
Belanda menyerang dari udara dan tembakan meriam. Banyak korban jiwa dari serangan itu. Ada seorang anggota keluarga yang sedang hamil terpeleset ke jurang.
Ada juga yang menderita luka berat akibat terkena tembakan. Orang itu meronta-ronta tak kuat menahan sakit.
Ia meminta ditembak mati saja. Keinginannya itu akhirnya dipenuhi salah satu prajurit. Prajurit menembak sambil memejamkan matanya.
Pasukan Siluman Merah lalu menguburkan rombongan yang gugur dalam serangan itu. Begitu naik dari liang lahat, prajuirt kaget bukan kepalang.
Seorang istri prajurit tubuhnya dililit ular besar. Yang tersisa hanya kepalanya saja. Melihat pemandangan itu, para prajurit tak bisa berbuat apa-apa.
Mereka memilih meninggalkan istri prajurit tersebut dalam keadaan terlilit ular besar. Rombongan meneruskan perjalanan ke puncak Gunung Sawal.
Saat itu situasi sangat terang. Seperti ada cahaya yang menerangi jalan pasukan Silluman Merah. Padahal saat itu belum masuk waktu bulan purnama.
Rombongan pun tak memerlukan obor untuk penerangan. Keajaiban lain terjadi. Pasukan ketika itu harus menyeberang jurang yang terjal.
Tiba-tiba ada sebuah catang besar melintang seperti jembatan. Pasukan melewati catang itu menyeberangi jurang yang dalam.
Bersyukur bisa melewati jurang dengan selamat, pasukan menggelar Shalat hajat dan berzikir. Setelah salat, mereka menengok ke arah belakang.
Tiba-tiba catang tersebut meluncur ke bawah melalui pucuk-pucuk bambu. Ternyata benda yang dikira catang itu adalah ular besar berwarna hitam pekat.
Ya ular itu lah yang membentangkan tubuhnya menjadi jembatan di tengah jurang. Melihat kejadian itu pasukan Siluman Merah langsung meneriakkan takbir.
“Allahu Akbar. Allahu Akbar.”
“Hanya dengan pertolongan Allah SWT kami selamat sampai tujuan,” kata Sirodz, salah satu pasukan Siluman Merah.
Rombongan Siluman Merah menempuh waktu tiga hari tiga malam melewati Gunung Sawal. Perjalanan itu dipenuhi penderitaan dan keajaiban.
Akhirnya seluruh rombongan bertemu di Kampung Sikluk. Kampung Sikluk terletak di perbatasan antara Tasikmalaya dan Ciamis. Daerah ini jauh dari pendudukan Belanda.
Para korban luka dititipkan ke Sikluk untuk mendapat perawatan. Hal ajaib kembali terjadi. Pasukan melihat istri prajurit yang tubuhnya diliit ular besar.
Sirodz menduga ular itu lah yang melindungi istri prajurit dari tembakan musuh.
