![Ilustrasi Omar Dhani. [ChatGPT]](https://lampau.id/wp-content/uploads/2025/11/omar-dhani-mimpi.jpg)
Omar Dhani adalah Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) yang dijatuhi hukuman mati. Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) menyatakan Omar Dhani terlibat Gerakan 30 September 1965 (G30S). Omar Dhani membantah secara tegas terlibat dalam G30S.
Pada tahun 1965, pecah peristiwa berdarah yang bernama Gerakan 30 September (G30S). Enam orang jenderal Angkatan Darat dan satu perwira pertama menjadi korban.
Jenazah para jenderal itu ditemukan di dalam sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya. Peristiwa ini menggemparkan masyarakat Indonesia.
Partai Komunis Indonesia (PKI) dituduh menjadi dalang di balik gerakan tersebut. Saat G30S pecah, Omar Dhani saat itu menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Udara yang saat ini dikenal dengan jabatan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU).
Omar Dhani adalah pendukung setia Presiden Soekarno tanpa reserve. Dia mendukung konsep Nasionalis Agama Komunis (Nasakom) yang dicetuskan Bung Karno. Hal ini tentu berbeda dengan Angkatan Darat yang berseberangan dengan Bung Karno dalam hal Nasakom.
Maka ketika G30S pecah, Angkatan Udara dianggap terlibat. Omar Dhani harus bertanggung jawab. Wakil Perdana Menteri Bidang Pertahanan Keamanan Letjen Soeharto mengeluarkan surat perintah penahanan terhadap Omar Dhani tertanggal 5 April 1966.
Saat itu Omar Dhani masih berada di Phnom Penh, Kamboja. Pada 20 April 1966 dia kembali ke Indonesia.
Baru saja menginjakkan kaki di Pangkalan Udara Atang Sanjaya di Semplak, Bogor, Omar Dhani, istri dan kelima anaknya langsung dibawa ke komplek peristirahatan AURI di Cibogo.
Ia dan keluarganya ditahan di sebuah bungalow. Yang membuat Omar Dhani terkejut, di sana sudah ada ayah dan ibunya. Ternyata mereka sudah ditahan selama seminggu di komplek AURI Cibogo.
Selama ditahan di Cibogo, Omar Dhani dan keluarga masih sempat merayakan ulang tahun anak ketiganya Dian.
Terpancar kebahagiaan dari raut wajah Dian kecil. Ia tak tahu bahwa perayaan ulang tahun itu dirayakan dengan status tahanan.
Mimpi Didatangi Ahmad Yani
Saat malam tiba, Omar Dhani menghabiskan waktu berbincang dengan sang ayah tentang kehidupan. Dia lalu bercerita kepada sang ayah mengenai mimpi tak biasa yang dialami istrinya saat berada di Kamboja.
Mimpi itu dialami istri Omar Dhani selama tiga hari berturut-turut. Pada malam pertama, sang istri bermimpi melihat Ahmad Yani yang diam saja.
Di malam kedua, mimpi yang sama terjadi. Istri Omar Dhani bertemu Ahmad Yani. Malam berikutnya, kembali mimpi bertemu Ahmad Yani.
Pada mimpinya kali ini, istri Omar Dhani melihat Ahmad Yani mengenakan seragam kebesaran militer lengkap dengan tanda jasa.
Ahmad Yani melempar senyum ke istri Omar Dhani tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mengalami mimpi yang aneh membuat istri Omar Dhani ketakutan. Ini karena Ahmad Yani adalah satu korban gugur dalam peristiwa G30S. Dia berusaha menenangkan sang istri.
Lalu pada malam Jumat, Omar Dhani menggelar tahlilan di rumah sewaan mereka di Kamboja. Ia mengundang anggota Kedubes RI dan orang muslim Khmer dari masjid setempat. Mereka mendoakan almarhum Jenderal Ahmad Yani.
Seusai tahlilan, giliran Omar Dhani yang bermimpi aneh. Dalam mimpinya, Omar Dhani merasa berada di sebuah rumah sakit. Seingat dia, rumah sakit itu adalah rumah sakit Halim.
Omar Dhani berjalan menyusuri selasar rumah sakit hingga sampai di satu ruangan yang luas. Dalam ruangan itu terdapat tempat tidur berjejer rapi. Hanya ada satu tempat tidur yang dipakai seorang pasien. Pasien itu mengenakan piyama berwarna serba putih.
Omar Dhani berhenti. Kepala pasien itu lalu berpaling ke arahnya. Pasien itu lalu tersenyum lebar dan bangkit dari tidurnya lalu duduk sambil melambaikan tangan kanannya ke Omar Dhani.
Pasien itu lalu menegur Omar Dhani. “Hei Dan”.
“Lho kamu kan sudah meninggal?” kata Omar Dhani di dalam mimpinya itu.
“Aku tidak apa-apa,” kata si pasien dengan mata berbinar.
“Eh, Dan Mbakyumu beserta anak-anak akan segera datang. Kali ini adalah kunjungan pertama. Kamu agar menunggu di sana, mereka masih marah terhadap kamu,” kata si pasien sambil menunjuk kamar sebelah kanan.
Pasien yang dilihat Omar Dhani itu ialah Jenderal Ahmad Yani. Mbakyu yang dimaksud Ahmad Yani ialah istrinya. Segera Omar Dhani masuk ke kamar yang ditunjuk Ahmad Yani.
Tak lama terdengar suara hak sepatu berjalan. Itu adalah suara sepatu istri Ahmad Yani dan anak-anaknya mengunjungi Ahmad Yani. Omar Dhani terbangun. Mimpinya buyar. Dia tak tahu maksud dari mimpi itu.
Pada 23 Mei 1966, Omar Dhani dipindah dari Cibogo ke Rumah Tahanan Nirbaya. Sementara keluarganya tidak ikut. Mereka diperbolehkan tinggal sementara di rumah dinas di Pangkalan Udara Atang Senjaya.
Dalam perjalanan menuju Nirbaya, Omar Dhani menyempatkan diri berbincang dengan Letkol CPM Nicklany, yang menjemputnya.
“Nick, nanti kira-kira vonis apa?” tanya Omar Dhani.
“Harapkanlah yang terburuk,” jawab Nicklany.
“Hukuman mati ya?” timpal Omar Dhani.
“Ya, jawab Nicklany singkat.
Omar Dhani tidak terlalu kaget. Ia tahu vonis terhadap dirinya sudah ditentukan jauh sebelum persidangan dimulai.
Di Nirbaya, Omar Dhani ditempatkan di rumah no.1 blok Amal. Blok amal dianggap blok VIP Nirbaya.
Saat di dalam penjara, tiba-tiba saja Omar Dhani menerima sebuah surat yang menyesakkan hatinya. Surat itu adalah surat pemecatan sementara Omar Dhani dari dinas militer.
Surat itu ditandatangani Presiden Soekarno. Alasan Soekarno memberhentikan tidak dengan hormat Omar Dhani karena terlibat dalam G30S.
Omar Dhani menulis surat memberitahu istrinya mengenai pemecatan sementara dirinya. Saat itu dirinya benar-benar gelisah. Dia merasa tidak berarti lagi. Apalagi kebanggaan seorang prajurit jika telah diberhentikan.
Dirinya bertanya-tanya bagaimana bisa diberhentikan dengan tidak hormat sementara belum jelas kesalahannya. Diamatinya surat pemecatan itu. Matanya tertuju pada tanda tangan Presiden Soekarno.
Omar Dhani seperti tak percaya, Bung Karno tokoh yang ia kagumi menandatangani surat itu.
“Inikah Soekarno? Begitukah balas kesetiaan?” gumam Omar Dhani.
Berbulan-bulan Omar Dhani hidup dalam kesendirian di dalam rumah tahanan. Dalam kesunyian itu, tiba-tiba ada bisikan menyusup ke dalam tubuh dan aliran darahnya.
Ketika sedang duduk, Omar Dhani merasakan ada suatu kekuatan menyelusup di tubuhnya. Kekuatan itu begitu lembut tapi berdaya gerak luar biasa sehingga membuat Omar Dhani tergerak menyanyikan lagu yang ia dengar di tahun 1940.
Lagu itu adalah Lagu umat Kristen berbahasa Belanda, bahasa yang melekat pada Omar Dhani sejak kecil. Lidah Omar Dhani tergerak begitu saja menyanyikan lagu yang sudah 26 tahun tidak pernah ia dengar dan nyanyikan.
Omar Dhani, seorang muslim, ditemani dan dikuatkan oleh lagu Kristiani. Pada hari Natal 25 Desember 1966 yang juga bulan Ramadan, Omar Dhani dijatuhi hukuman mati. Tahun 1980, hukumannya diubah menjadi seumur hidup.
Akhirnya pada 16 Agustus 1995, Omar Dhani dibebaskan dari penjara. Saat itu ia sudah berusai 76 tahun. Artinya Omar Dhani meringkuk di penjara selama 29 tahun.
