Intel Nyamar Jadi Pengemis: Mengungkap Kasus Penculikan Anak Pengusaha Tajir

Ilustrasi intel nyamar jadi pengemis. [ChatGPT]
Ilustrasi intel nyamar jadi pengemis. [ChatGPT]

Hey Jadoelers! pasti sering mendengar cerita tentang penyamaran Intel. Seorang intel bisa menyamar menjadi apa saja.

Dia bisa jadi pedagang, pengusaha bahkan tukang nasi goreng. Ini sering jadi bahan bercandaan di televisi.

Sering kita dengar jika melihat tukang nasi goreng membawa HT maka dia adalah seorang intel. Cerita seperti ini bukan isapan jempol belaka. Tugas penyamaran seorang intel adalah cara untuk mengumpulkan data dan informasi.

Seperti cerita berikut ini mengenai intel yang menyamar jadi pengemis. Penasaran seperti apa ceritanya? Simak terus ya artikel ini.

Di tahun 1967, badan intelijen Indonesia masih bernama Badan Koordinasi Intelijen Negara atau Bakin. Mayjen Soedirgo diangkat sebagai Kepala Bakin pertama.

Di tahun 1968, Soedirgo dipecat sebagai Kepala Bakin karena dituduh dekat dengan Soekarno. Penggantinya ialah Mayjen Sutopo Juwono.

Sutopo membagi dua deputi operasional yang membantunya menjalankan tugas. Dua deputi ini berasal dari Polisi Militer.

Deputi I dipegang Brigjen Purwosunu. Tugasnya menangani masalah keamanan negara. Deputi II dijabat Kolonel Nicklany. Tugasnya pengumpulan dan analisa data intelijen.

Nicklany memiliki gagasan membentuk unit baru yang tugasnya khusus menangani kontra intelijen asing.

Hasilnya Nicklany membentuk unit baru yang diberi nama Satuan Khusus Intelijen atau Satsus intel.

Unit khusus ini mendapat bantuan keuangan rahasia dari Amerika untuk membayar gaji 60 personelnya.

Amerika juga membantu kendaraan untuk pengamatan, biaya sewa rumah aman, tape recorder dan peralatan penyadap telepon.

Selain membantu dana, Amerika juga membantu melatih para personel untuk menjadi seorang intelijen handal. Personel Satsus Intel dilatih pengintaian dasar selama dua minggu.

Mereka harus ahli membuntuti kendaraan diam-diam, penyamaran dan menangani para agen.

Tugas utama Satsus Intel adalah menangkapi agen mata-mata asing yang tidak bekerja sama dengan Indonesia.

Satsus Intel pernah mendapat tugas di luar menangkapi mata-mata. Tugas itu terkait dengan tindak pidana penculikan anak di bawah umur.

Kisah ini diceritakan dalam buku berjudul “Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia” karya Ken Conboy.

Pertengahan tahun 1970, pernah terjadi aksi penculikan seorang anak pengusaha tajir di Indonesia. Namanya ialah Timothy Timmy Pesik, anak berusia 9 tahun.

Ketika itu Timmy baru saja pulang sekolah. Rupanya gerak-gerik Timmy sudah diawasi orang lain dari dalam mobil.

Melihat Timmy keluar dari sekolah, dua orang keluar dari dalam mobil sedan warna hitam. Dua orang ini menghampiri Timmy memberitahu bahwa ibunya mengalami kecelakaan.

Itu hanyalah trik untuk bisa membawa Timmy. Timmy yang menangis dibawa masuk ke dalam mobil lalu pergi.

Sejam kemudian, sebuah surat tergeletak di depan rumah Timmy. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan. Isi surat meminta uang tebusan Rp 20 juta dalam waktu tiga hari.

Uang itu harus dibawa ke suatu tempat yang nantinya akan ditentukan gerombolan penculik. Di tahun 70-an, uang sebesar Rp 20 juta tentu sangat fantastis nilainya.

Penculik tahu bahwa Timmy adalah anak tajir. Timmy adalah anak seorang pengusaha Tionghoa bernama Tan Gwan Tjae yang memiliki usaha di bidang farmasi terbesar di Indonesia.

Sontak saja kabar penculikan ini menyebar ke seluruh penjuru negeri. Pihak kepolisian melakukan penyelidikan kasus penculikan tersebut.

Kepolisian mengaku kesulitan melacak penculik karena keterbatasan personel. Baik secara jumlah maupun kemampuan.

Kepala Kepolisian Jakarta Raya meminta bantuan Satsus Intel. Kebetulan Kepala Kepolisiannya mengenal Mayor Nuril, Komandan Satsus Intel.

Pak Kapolda tahu betul rekam jejak Satsus Intel yang memiliki kemampuan pengintaian yang unik. Nuril setuju membantu polisi mengungkap kasus penculikan Timmy.

Nuril mengumpulkan anak buahnya dan memberitahu Satsus Intel akan terlibat dalam operasi pembebasan Timmy.

Operasi itu dinamakan Operasi Sapu Bersih. Satsus Intel lalu menyadap telepon di kediaman Tan. Anggota Satsus Intel juga melakukan pengintaian rahasia di sekitar rumah Tan selama 24 jam.

Langkah ini mereka ambil untuk mengantisipasi jika penculik kembali datang menyerahkan surat tuntutan kedua.

Pengintaian dilakukan dengan cara penyamaran. Ada anggota Satsus Intel yang menyamar sebagai pengemis. Ia mengintai dari balik tumpukan sampah di ujung jalan.

Tiba-tiba telepon di kediaman Tan berdering. Suara di ujung telepon ternyata adalah kelompok penculik. Mereka bernegosiasi dengan pihak Tan mengenai uang tebusan.

Hasil negosiasi, para penculik bersedia menurunkan nilai uang tebusan menjadi Rp 6,5 juta. Para penculik tak menyadari telepon sudah disadap.

Satsus Intel berhasil mengindentifikasi lokasi para penculik dari telepon. Segera tim dari Satsus Intel bergerak ke lokasi para penculik.

Di sana, mereka tidak langsung melakukan penyergapan. Satsus Intel melakukan pengintaian selama beberapa hari di lokasi tersebut.

Setelah yakin bahwa lokasi itu adalah lokasi para penculik, Satsus Intel memberitahu pihak kepolisian. Berbekal informasi dari Satsus Intel, aparat kepolisian bergerak ke lokasi.

Mereka menggerebek sebuah rumah. Di dalam rumah, polisi menemukan Timmy yang ketakutan. Kondisi Timmy saat itu sehat.

Dari penggerebekan itu, polisi menangkap lima orang penculik Timmy. Tak ada yang tahu mengenai keterlibatan Satsus Intel dalam pengungkapan kasus penculikan itu.

Ini karena karakter Satsus Intel adalah menghindari publikasi dan mereka tidak mau menerima pujian.

Ini adalah operasi pertama Satsus Intel di luar tugas utamanya menangkapi mata-mata musuh. Operasi berjalan sukses.

Setelah operasi ini, Satsus Intel kembali dilibatkan dalam operasi pengungkapan tindak kejahatan.

About the author: redaksi

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *