Dari Kusno ke Sukarno: Tanda Alam Kelahiran dan Asal Usul Nama Bung Besar

Ilustrasi Sukarno. [ChatGPT]
Ilustrasi Sukarno. [ChatGPT]

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tak lepas dari peran besar Sukarno. Bersama Mohammad Hatta, dia memproklamirkan berdirinya Republik ini 80 tahun lalu.

Kehadiran Sukarno sebagai pejuang bangsa ini sudah diramalkan sejak ia lahir. Sejumlah kejadian alam menjadi pertanda bahwa Pemimpin Besar Revolusi akan hadir di bumi pertiwi.

Kisah Cinta Beda Agama

Sukarno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur. Ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru. Sedangkan ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah ibu rumah tangga.

Ada cerita menarik di balik kisah cinta orang tua Sukarno ini. Orang tua Sukarno menikah beda agama. Ayahnya beragama Islam dan ibunya beragama Hindu.

Raden Sukemi saat itu bertugas mengajar sebagai guru sekolah rendah gubernemen di Singaradja, Bali. Selesai bekerja, Raden Sukemi sering datang ke lubuk di depan sebuah pura.

Di sanalah ia bertemu Ida Ayu Nyoman Rai yang sehari-hari bekerja membersihkan pura. Awalnya Raden Sukemi hanya melihat Ida Ayu dari kejauhan saja.

Lama kelamaan, Raden Sukemi memberanikan diri menyapa Ida Ayu. Gayung bersambut. Ida Ayu membalas sapaan itu.

Dari situlah benih cinta tumbuh di antara keduanya. Raden Sukemi berniat menikahi Ida Ayu. Ia lalu mendatangi orang tua Ida Ayu memohon restu.

“Bolehkah saja meminta anak ibu-bapak ?”

Orang tua Ida Ayu lalu menjawab, 

“Tidak bisa. Engkau berasal dari Jawa dan engkau beragama Islam. Tidak, sekali-kali tidak ! Kami akan kehilangan anak kami.”

Saat itu perempuan Bali tidak ada yang mengawini orang luar Bali. Waktu itu tidak ada perkawinan campuran antara satu suku dengan suku lain sama sekali.

Kalaupun itu terjadi, maka pengantin baru itu diasingkan dari rumah orang tuanya sendiri. Tak mendapat restu, Satu-satunya jalan bagi mereka ialah kawin lari.

Kawin lari menurut kebiasaan di Bali harus mengikuti tata-cara tertentu. Di malam perkawinannya, Sukemi dan Ida Ayu menginap di rumah kepala polisi mencari perlindungan.

Lalu mereka mengutus orang ke rumah Ida Ayu memberitahu mengenai perkawinan Ida Ayu dengan Sukemi.

Mendapat kabar itu, keluarga datang menjemput Ida Ayu. Namun kepala polisi tidak mau melepaskan Ida Ayu begitu saja.

“Tidak, dia berada dalam perlindungan saya,” katanya.

Akhirnya masalah ini dibawa ke pengadilan adat. Hal ini dilakukan sebab telah terjadi pernikahan beda agama antara Sukemi dengan Ida Ayu.

Pada waktu perkara itu diadili, Ida Ayu ditanya,

“Apakah laki-laki ini memaksamu, bertentangan dengan kemauanmu sendiri ?”

“Tidak, tidak. Saya mencintainya dan melarikan diri atas kemauan saya sendiri,” jawab Ida Ayu.

Tak ada pilihan bagi orang tua Ida Ayu. Akhirnya mereka mengizinkan perkawinan itu. Pengadilan tetap menjatuhkan denda ke Ida Ayu sebesar 25 ringgit.

Demi bisa membayar denda itu, Ida Ayu rela menjual perhiasan emas warisan dari orang tuanya.

Merasa tidak disukai di Bali, Raden Sukemi mengajukan permohonan pindah ke Jawa kepada Departemen Pengajaran. Permohonan disetujui. Raden Sukemi dan Ida Ayu pindah ke Surabaya.

Tanda Alam Kelahiran Sukarno

Saat pindah ke Surabaya, Ida Ayu melahirkan Sukarno. Sukarno lahir tepat di saat fajar menyingsing di tanggal 6 bulan 6 tahun 1901.

Orang Jawa mempercayai bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu.

“Jangan lupakan itu, Jangan sekali-kali kaulupakan, nak, bahwa engkau ini putera dari sang fajar,” ujar Ida Ayu kepada sukarno kecil.

“Kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing,” kata Ida Ayu.

Sukarno mengenang proses kelahirannya sebagai peristiwa menyedihkan. Saat Ida Ayu ingin melahirkan, Raden Sukemi tidak sanggup membayar dukun beranak.

Hanya ada seorang kakek yang menemani Ida Ayu. Kakek itu adalah kawan dari keluarga mereka. Alhasil Sukarno lahir hanya disaksikan sang ibu dan kakek tersebut.

Ketika bayi Sukarno hadir ke muka bumi, Gunung Kelud meletus. Orang yang percaya tahayul meramalkan ini adalah penyambutan terhadap bayi Sukarno.

Sebaliknya orang Bali mempunyai kepercayaan lain. Kalau Gunung Agung meletus berarti bahwa rakyat telah melakukan maksiat.

Jadi, orang pun dapat mengatakan bahwa gunung Kelud sebenrnya tidak menyambut bayi Sukarno. Gunung Kelud malah menyatakan kemarahannya, karena anak yang begitu jahat lahir ke muka bumi ini.

Begitu lahir, Sukarno diberi nama Kusno. Kusno adalah anak yang penyakitan. Ia menderita malaria, disenteri, dan penyakit lain.

“Namanya tidak cocok. Kita harus memberinya nama lain supaya tidak sakit-sakit lagi,” ujar Raden Sukemi.

Karena menggandrungi kisah Mahabharata, Sukemi akhirnya mengubah nama Kusno menjadi Karna.

Karna adalah salah-seorang pahlawan terbesar dalam cerita Mahabharata. Karna tersohor karena keberanian dan kesaktiannya.

Karna adalah pejuang bagi negaranya dan seorang patriot yang saleh. Sambil memegang bahu Sukarno dengan kuat, Sukemi memandang jauh ke dalam mata anaknya.

“Aku selalu berdo’a, agar engkaupun menjadi seorang patriot dan pahlawan besar dari rakyatnya,”.

Nama Karna dan Karno sama saja.

Dalam bahasa jawa huruf “A” menjadi “O”. Awalan “Su” pada kebanyakan nama kami berarti baik, paling baik. Jadi Sukarno berarti pahlawan yang paling baik.

“Karena itulah maka Sukarno menjadi namaku yang sebenarnya dan satu-satunya,” ujar Sukarno.

Hidup Dalam Kemiskinan

Sukarno dilahirkan di tengah-tengah kemiskinan dan dibesarkan dalam kemiskinan. Dia tidak mempunyai sepatu.

Mandi tidak dalam air yang keluar dari kran. Sukarno tidak mengenal sendok dan garpu. Kemiskinan ini membuat sedih hati Sukarno.

Gaji ayahnya hanya f 25 sebuIan. Uang itu dipakai untuk membiayai empat orang anggota keluarga. Lalu untuk membayar sewa rumah.

Ketika Sukarno berumur enam tahun, pindah ke Mojokerto. Di sana mereka tinggal di daerah yang melarat.

Di saat lebaran tiba, keluarga Sukarno tak pernah berpesta maupun mengeluarkan fitrah karena tidak punya uang.

Ketika malam takbiran, anak-anak sebayanya bermain petasan, Sukarno hanya berbaring di dalam kamar.

Ia hanya bisa mendengar bunyi petasan berletusan di sela oleh sorak-sorai kawan-kawannya. Sukarno tak punya uang untuk membeli petasan. Ia pun hanya bisa meratap di atas tempat-tidurnya.

“Dari tahun ketahun aku selalu berharap-harap, tapi tak sekalipun aku bisa melepaskan mercon,” umpat Sukarno kecil.

Sampai di suatu malam ada tamu datang ke rumahnya memberikan hadiah petasan. Sukarno girangnya bukan main.

Sukarno hidup sangat melarat sehingga hampir tidak bisa makan satu kali dalam sehari. Sukarno lebih sering makan ubi kayu, jagung tumbuk dengan makanan lain.

Ibunya tidak mampu membeli beras murah yang biasa dibeli oleh para petani. Ia hanya bisa membeli padi.

Setiap pagi ibu Sukarno mengambil lesung dan menumbuk, menumbuk, sampai menjadi beras.

“Dengan melakukan ini aku menghemat uang satu sen,” kata sang Ibu kepada Sukarno.

Ibunya bekerja dalam teriknya panas matahari sampai telapak tangannya merah dan melepuh.

“Dan dengan uang satu sen kita dapat membeli sayuran, ‘nak.” Kata sang ibu.

Sejak itu, Sukarno membantu ibunya menumbuk padi setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah.

About the author: redaksi

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *