![Ilustrasi Gerakan 30 September 1965. [ChatGPT]](https://lampau.id/wp-content/uploads/2025/11/g30s-gagal.jpg)
Siapa dalang di balik Gerakan 30 September 1965 yang dikenal dengan nama Gestapu hingga kini masih menjadi misteri.
Banyak versi yang beredar mengenai siapa sebenarnya dalang Gestapu. Mulai dari CIA, PKI, Suharto, hingga Sukarno.
Nah di artikel kali ini saya akan membahas Gestapu berdasarkan hasil penelitian pengamat militer Salim Said yang tertuang dalam bukunya yang berjudul Dari Gestapu ke Reformasi.
Sukarno-Yani Renggang
Presiden Sukarno dan Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani berbeda pandangan terhadap PKI.
Sukarno menggandeng PKI sebagai koalisi politik lewat nasakom sementara Yani adalah perwira anti PKI yang menolak konsep Nasakom.
Ketika PKI mendukung penuh aksi ganyang Malaysia yang digaungkan Sukarno, Angkatan Darat di bawah pimpinan Ahmad Yani justru sebaliknya.
Yani tidak setuju adanya konfrontasi dengan Malaysia. Lalu dilancarkanlah operasi khusus di bawah kendali Angkatan Darat untuk menggagalkan Konfrontasi Malaysia.
Dari semua angkatan perang ketika itu, hanya AD yang terlihat setengah hati dalam Konfrontasi dengan Malaysia.
Ketika semua angkatan perang mengirim pasukan khususnya ke perbatasan Malaysia, Yani malah tidak melibatkan RPKAD dalam konflik tersebut.
Yani takut jika PKI melakukan perebutan kekuasaan tidak ada pasukan yang cukup untuk menghalaunya.
“Saya tidak ingin RPKAD terlibat dalam konfrontasi Malaysia,” kata Yani.
Ini membuat Sukarno mulai kehilangan kepercayaan terhadap Ahmad Yani. Presiden menuding pimpinan Angkatan Darat tidak lagi loyal terhadap pemimpin besar revolusi.
Salah satu hal yang juga membuat Sukarno mulai meragukan kesetiaan Yani adalah ketika Yani batal menangkap Jenderal AH Nasution.
Yani tak suka dengan sikap Nasution yang menentang Sukarno secara terbuka hingga mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Nasution.
Beruntung sejumlah jenderal senior turun tangan. Mereka meminta Yani tidak menangkap Nasution.
Yani pun mengurungkan niatnya menangkap Nasution. Hal ini membuat Sukarno makin yakin untuk tidak lagi percaya Yani.
“Tampaknya rencana penyingkiran Yani mulai bersemi di kepala Sukarno sejak itu,” tulis Salim Said.
Di sisi lain kesabaran Yani terhadap Sukarno yang makin lengket dengan PKI mulai menipis.
Yani marah besar ketika mendengar kabar kematian Peltu Sudjono, karena dibantai Barisan Tani Indonesia (BTI), organ PKI di Bandar Betsy, Sumatera Utara.
Di hadapan para perwira, Yani memberi taklimat yang emosional.
“Kalau Bung Besar kepingin punya istri banyak, biarkan saja. Tapi bila Bung Besar mau main mata dengan PKI, maka dia akan berurusan dengan Angkatan Darat,” tegas Ahmad Yani.
AD lalu sibuk mengatur barisan kaum anti komunis. Melihat langkah AD ini, Sukarno tak punya pilihan lain selain mengganti Ahmad Yani sebagai Panglima AD.
Perintah Penculikan
Mencopot Ahmad Yani secara mendadak tentu berisiko di tengah ketegangan situasi politik saat itu.
Menurut pengamat militer Salim Said, hanya ada satu jalan bagi Sukarno untuk menyingkirkan Ahmad Yani dan para pembantunya.
Jalan itu dinamakan daulat. Daulat ini menurut salim Said, adalah penculikan Ahmad Yani dkk untuk didaulat melepaskan posisi dari pimpinan Angkatan Darat.
Daulat, mendaulat dan pendaulatan adalah tradisi yang sering muncul di zaman revolusi dalam bentuk penculikan.
Yang paling memorable adalah ketika pada pemuda menculik Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok menjelang Proklamasi 1945.
Para pemuda itu lalu mendaulat Sukarno dan Hatta untuk mengumumkan kemerdekaan Indoesnia secepat mungkin.
Pendaulatan lain adalah peristiwa penculikan Perdana Menteri Syahrir di Solo oleh elemen pemuda dan tentara yang antidiplomasi.
Dengan penculikan Syahrir diharapkan perundingan dengan Belanda bisa dicegah. Setelah didaulat, kabinet Syahrir malah bubar tapi sang perdana menteri bisa diselamatkan.
Sukarno, Hatta dan Syahrir diculik tanpa dianiaya secara fisik. Menurut Salim Said, kasus pendaulatan cukup banyak terjadi di zaman revolusi.
Ini adalah salah satu modus operandi melakukan perubahan elite atau kebijakan. Dalam organisasi ketentaraan di awal revolusi, mekanisme pergantian komandan belum tercipta. Maka jalan daulat mendaulat yang dipakai dalam mengganti pimpinan pasukan.
Itulah mengapa Sukarno menggunakan jalan alternatif berupa daulat untuk mengganti pimpinan Angkatan Darat.
Sukarno lalu memanggil Komandan pengawalnya Letkol Untung untuk melaksanakan rencana tersebut.
Skenarionya Ahmad Yani dan para deputinya diculik dengan tuduhan tidak loyal menjalankan perintah Panglima Tertinggi.
Lalu para jenderal itu dihadapkan ke Sukarno. Setelah itu Ahmad Yani akan didaulat untuk selanjutnya diganti oleh jenderal pilihan Sukarno.
Mengapa Para Jenderal Dibunuh?
Salim Said menduga skenario penculikan para jenderal yang dirancang Sukarno ini bocor ke PKI.
Sebab Letkol Untung adalah prajurit yang berada dalam pembinaan Ketua Biro Khusus PKI, Syam Kamaruzzaman.
DN Aidit, pimpinan PKI, mendukung penuh rencana daulat itu sebab Angkatan Darat adalah lawan politik PKI paling kuat saat itu.
Aidit memerintahkan Syam mengambil alih operasi militer dari Untung. Salim Said yakin tidak ada skenario pembantaian yang dibuat Sukarno terhadap Yani dkk.
Lalu mengapa di level operasional, terjadi pembunuhan terhadap para jenderal? Apakah atas perintah Aidit yang menumpangi operasi Gestapu?
Salim Said pun tak yakin Aidit adalah orang yang memerintahkan pembantaian para jenderal itu. Angkatan Darat memang musuh PKI.
Namun Aidit sadar partainya bisa hancur jika operasi Gestapu sampai memakan korban jiwa. Bagi Aidit pergantian Yani dan deputinya saja sudah cukup untuk membuat PKI makin kuat.
“Oleh sebab itu hampir bisa dipastikan bukan Aidit yang menggagas pembunuhan para jenderal,” kata Salim Said.
Salim Said memiliki beberapa analisa mengenai penyebab terjadinya pembunuhan para jenderal di malam itu.
Namun yang paling masuk akal menurut dia adalah terjadi kepanikan prajurit di lapangan. Syam sebagai pemimpin operasi Gestapu bukanlah orang yang memiliki pengalaman memimpin operasi militer.
Sehingga ia tidak memiliki perencanaan yang matang untuk operasi yang rumit dan sensitif ini.
Belum lagi faktor pasukan yang terlibat penculikan adalah prajurit yang tidak mengenal Jakarta dan tidak mengenal baik siapa yang akan mereka culik.
Buktinya mereka tidak bisa membedakan mana Nasution dan Pierre Tendean.
Maka ketika terjadi perlawanan para jenderal saat akan diculik, membuat pasukan panik sehingga harus mengambil tindakan di luar skenario.
“Saya berkesimpulan, bahwa pembantaian para jenderal itu lebih meyakinkan sebagai akibat kepanikan prajurit di lapangan yang bersumber pada perencanaan yang kacau,” ujar Salim Said.
Namun Salim Said mengatakan tidak menutup kemungkinan adanya peranan agen asing di balik pembantaian para jenderal itu jika ditemukan bukti kuat.
Jika memang nanti terbukti ada keterlibatan agen asing, Salim Said mengatakan, bisa jadi Syam sengaja merancang operasi Gestapu untuk gagal.
