![Ilustrasi Anies Baswedan [ChatGPT]](https://lampau.id/wp-content/uploads/2025/11/anies-baswedan.jpg)
Anies Baswedan pernah berhadap-hadapan langsung dengan tentara ketika masih mahasiswa.
Saat itu Anies Baswedan memimpin 13 ribu mahasiswa berdemo memprotes aktivitas judi yang dilegalkan pemerintah berkedok Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB).
Seperti apa ceritanya? Stay tune ya.
Polemik SDSB
Tahun 1978, Pemerintah melalui Usaha Undian Harapan membuat program ‘judi terselubung’ yang dikenal dengan SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah).
Tak kurang dari 4 juta kupon SDSB disebar untuk dibeli masyarakat. Nilainya kala itu setara dengan 2-3 Kilogram (Kg) beras.
Nantinya kupon-kupon itu diundi setiap 2 pekan. Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS) ditunjuk pemerintah sebagai operator. Keuntungan yang bisa diraup dari SDSB ini bisa mencapai 1 triliun rupiah.
Perlahan muncul aksi protes dari kalangan mahasiswa. Pemicunya banyak korban timbul dari kalangan masyarakat kecil.
Pemicu lain adalah adanya program dana sumbangan pendidikan untuk pembangunan salah satu kampus di Yogyakarta pada tahun 1991.
Dana untuk pembangunan kampus tersebut disinyalir dari hasil judi SDSB. Kemudian, mahasiswa mengeluarkan tuntutan agar dana tersebut dikembalikan.
Aksi pertama terjadi pada 5 November 1991 yang dilakukan 5.000 mahasiswa. Aksi yang lebih besar terjadi pada 13 November 1991.
Sebanyak 9.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi bergabung dan menyerukan suaranya untuk menentang keberadaan SDSB.
Anies Pimpin Demo
Pada tahun 1993, mahasiswa UGM kembali menggelar demo menolak SDSB dengan jumlah massa lebih besar lagi.
Saat itu Anies Baswedan, sebagai Ketua Senat Mahasiswa UGM, memimpin aksi. Anies Baswedan dan para mahasiswa menggelar demo sehabis salat jumat.
Estimasi massa yang akan ikut demo awalnya sekitar 5 ribu orang. Namun ternyata massa yang datang mencapai 13 ribu orang.
Anies memimpin belasan ribu mahasiswa itu long march dari bunderan UGM menuju Gedung DPRD Yogya di Malioboro.
Aksi demo mahasiswa ini dijaga ketat aparat militer. Mereka mengepung Bunderan UGM. Pasukan dari Korem Pamungkas, dibantu Batalyon Artileri Medan dari Magelang mengepung kampus.
Mobil-mobil lapis baja berseliweran dan diparkir di sekitar kampus. Helikopter tampak terbang rendah di atas kampus memandu pergerakan pasukan elit yang bergerak rapih.
Dari mobil Komando, keluar Komandan Militer menuju massa mahasiswa untuk negosiasi. Seorang Perwira Infanteri tempur dengan 2 Bunga Melati di Pundaknya berbicara.
Sang komandan memerintahkan Anies Baswedan, yang memimpin demo, untuk membubarkan aksi. Mereka lalu menarik Anies Baswedan masuk ke dalam Markas Menwa UGM, di depan Bunderan UGM.
Beberapa orang mahasiswa menemani. Di ruangan yang kecil itu penuh diisi belasan intel dan pasukan berseragam. Suasana dalam ruangan terlihat tegang, mencekam.
“„Anies!, lihat kampus sudah dikepung. Anda tidak bisa apa-apa lagi. Anda terkepung! Sekarang saya perintahkan kalian semua bubar!“, kata sang Letkol memberi perintah.
Suasana hening sebentar. Kemuadian Anies kalem menjawab:
“Kami dan kampus kami memang terkepung tapi Bapak lihat ke sekeliling. Semua wartawan nasional dan internasional meliput pengepungan ini. Apa yang terjadi jika BBC atau CNN memberitakan bahwa kendaraan lapis baja beserta helikopter tempur mengepung kampus UGM, kampus rakyat?“
“Bukankah pengepungan ini akan menghancurkan kredibilitas Pemerintah (ORBA) dan kehormatan korps tentara yang melakukan kekerasan terhadap mahasiswa?“ kata Anies.
“Bukan kami (mahasiswa) yang tersandera! tapi Bapaklah (militer dan ORBA) yang justru tersandera karena akan dituduh telah melakukan kekerasan pada mahasiswa. Kalau sampai terjadi bentrokan, kami paling-paling luka kena popor senjata, tapi sesudah ini Bapak akan dicopot dan kredibilitas pemerintah akan rusak karena cara-cara yang Bapak pakai !“, jawab Anies.
Sang Komandan tertegun mendengar jawaban Anies yang tidak dia duga. Anies langsung menangkap momen ini bahwa posisinya lebih baik dalam negosiasi.
Sedetik kemudian, Anies memimpin negosasi dengan memberi saran ke Sang Komandan.
“Tarik saja pasukan Bapak dari Kampus. Saya jamin mahasiswa hanya demo di kampus. Tidak akan turun ke jalan. Ini cuma demo biasa untuk menyatakan asiprasi nurani kami (masak harus dibubarkan?)” ujar Anies.
Hanya dalam hitungan detik sang Komandan balik kanan.
Tidak lama kemudian, berangsur-angsur kendaraan lapis baja beserta pasukan elit berantena tinggi meninggalkan Bunderan. Deru helikopter pun sudah tidak terdengar lagi.
