Letkol Untung Samsuri: Dari Pahlawan Jadi Pecundang

Ilustrasi Letkol Untung Sjamsuri. [ChatGPT]
Ilustrasi Letkol Untung Sjamsuri. [ChatGPT]

Letkol Untung Sjamsuri adalah perwira TNI yang terlibat penculikan para jenderal di malam 1 Oktober 1965. Sebelum terlibat dalam aksi Gerakan 30 September 1965, Letkol Untung adalah sosok prajurit tangguh.

Terbukti ia pernah menerima penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Sukarno. Bintang Sakti adalah penghargaan tertinggi bagi seorang tentara dalam menjalankan tugasnya.

Selain Untung, perwira yang pernah menerima Bintang Sakti adalah Benny Moerdani. Sayang, reputasi baik yang sudah ia bangun harus runtuh karena terlibat G30S.

Mengapa Untung memutuskan ikut dalam penculikan para atasannya itu? Simak ulasannya di artikel ini.

Memulai dari Heiho

Untung memiliki nama asli Kusman. Ia lahir pada 3 Juli 1926 di Desa Sruni, Kedungbajul, Kebumen, Jawa Tengah. Ayahnya Abdullah Mukri, adalah seorang penjaga toko bahan batik milik seorang keturunan Arab di Pasar Kliwon, Solo.

Mukri dikenal sebagai lelaki yang suka kawin cerai. Tercatat Mukri kawin sebanyak 7 kali. Untung lahir dari istri kedua Mukri. Ibu Untung bekerja sebagai pemain wayang orang di desanya.

Ketika Untung berusia 10 tahun, ibunya minggat dan menikah dengan lelaki lain. Sepeninggal sang ibu, Untung tinggal bersama adik ayahnya bernama Samsuri di Solo.

Samsuri tak punya anak. Tak heran ia begitu menyayangi Untung.  Samsuri sangat memperhatikan pendidikan Untung.

Untung mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat, Solo. Setamat Sekolah Rakyat, Untung disekolahkan di sekolah dagang Belanda setingkat SMP.

Saat duduk di bangku SMP itu, Jepang mendarat di Indonesia. Untung lalu memutuskan bergabung bersama Heiho, pasukan sukarela pembantu prajurit Jepang.

Alasan ekonomi jadi pertimbangan Untung masuk Heiho. Heiho berbeda dengan PETA. Heiho tidak memiliki jenjang kepangkatan yang baik.

Ini karena Heiho adalah prajurit kuli bagi militer Jepang. Di Heiho inilah, Untung mendapat pelatihan militer.

Setelah Jepang menyerah pada sekutu dan hengkang dari Indonesia, Untung bergabung dengan Batalyon Sudigdo di Wonogiri, Jawa Tengah.

Batalyon Sudigdo adalah bagian dari Divisi Panembahan Senopati yang berbasis di Jawa Tengah bagian Selatan.

Batalyon ini terpengaruh paham Marxisme/komunisme. Ini terlihat dari keterlibatan Batalyon Sudigdo pada Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948.

Pasukan pemerintah memburu batalyon Sudigdo yang berpaham kiri. Sayangnya aksi pembersihan TNI dari paham kiri terhenti karena pecahnya Agresi Militer Belanda II. Pemerintah memfokuskan konsentrasi pada perlawanan terhadap Belanda.

Di tahun 1949, Untung kembali masuk TNI. Ia bergabung dengan Batalyon 444 di Kleco, Solo, sebagai komandan kompi. Disinilah Untung mengenal Letkol Suharto yang menjabat sebagai Komandan Resimen 15 Solo.

Menjadi Komandan di Banteng Raiders

Pada tahun 1950, Jawa Tengah sedang rawan karena adanya simpul DI/TII pimpinan Amir Fatah.

Komandan Brigade N Sub Teritorium XII Letkol Ahmad Yani mendapat tugas menumpas gerakan Amir Fattah.

Yani lalu memiliki ide membentuk satuan kecil yang mempunyai daya gempur tinggi dan bermental baja guna menghadapi DI/TII.

Yani dipinjami bekas pasukan Andi Azis yang memberontak di Makassar.  Pasukan Andi Azis ini memiliki kualifikasi pasukan khusus. Mereka lalu digembleng di Magelang.

Sebagai uji loyalitas dan kemampuan, pasukan ini diterjunkan dalam menumpas pemberontakan Angkatan Umat Islam.

Misi Sukses. Mereka lalu diterjunkan dalam menumpas pemberontakan DI/TII dengan nama Operasi Gerakan Banteng Nasional.

Pasukan ini dinamakan Batalyon 431 Banteng Raiders yang memiliki kualifikasi para. Pada tahun 1962, nama batalyon ini diubah menjadi Batalyon 454/Para Banteng Raiders Diponegoro yang bermarkas di Srondol, selatan Semarang.

Untung yang pindah ke Divisi Diponegoro, dipercaya sebagai Komandan Batalyon 454/Para banteng Raiders dengan pangkat mayor.

Untung dipercaya mengemban jabatan itu setelah ikut serta dalam Operasi 17 Agustus Penumpasan PRRI di Sumatera Barat yang dipimpin Ahmad Yani.

Terjun ke Irian Barat

Presiden Sukarno mengkampanyekan pembebasan Irian Barat. Salah satunya caranya dengan melakukan infiltrasi ke Irian Barat. Maka diadakannya operasi penerjunan masuk ke daerah Irian Barat.

Salah satu pasukan yang dilibatkan dalam operasi ini adalah pasukan dari Batalyon 454/Banteng Raiders pimpinan Mayor Untung.

Pasukan ini memiliki kualifikasi para kemampuan lintas udara, anti gerilya serta mampu bertempur di tengah rimba dan gunung. Untung memimpin kelompok Gagak yang diterjunkan di daerah Kaimana bersama 140 anak buahnya.

Di Irian Barat, pasukan Untung sempat terkatung-katung selama 10 hari di hutan dengan kondisi ransum terbatas.

Biar begitu, Untung mampu menorehkan prestasi di Irian Barat. Ia dan pasukannya mampu masuk ke dalam kota dan memadamkan semua lampu.

Sementara hutan belantara dibuat terang benderang. Tidak diketahui dengan apa Untung membuat hutan menjadi terang.

Untung dan pasukannya mampu bertahan hingga terjadinya gencatan senjata antara Indonesia dengan Belanda.

Untung lalu mendirikan markasnya di Sisir, Kaimana. Di sana, mereka mengibarkan bendera merah putih sebagai tanda kedaulatan Republik Indonesia.

Pulang dari Irian Barat, Untung disambut bak pahlawan. Ia bersama Benny Moerdani mendapat penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Sukarno.

Berkat prestasinya itu pangkat Untung dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Kolonel atau Letkol.

Presiden Sukarno lalu membentuk pasukan khusus pengawal presiden bernama Cakrabirawa. Kesatuan ini diisi pasukan-pasukan khusus dari Darat, Laut, Udara dan Kepolisian.

Khusus angkatan darat, pasukan yang dipercaya masuk Cakrabirawa adalah dari Banteng Raiders. Ini karena RPKAD menolak bergabung dengan alasan ingin berkonsentrasi sebagai pasukan tempur.

Benny Moerdani yang berasal dari RPKAD juga menolak tawaran Bung Karno menjadi Komandan Batalyon 1 Kawal Kehormatan Cakrabirawa.

Alhasil Untung yang dipilih sebagai Benny Moerdani untuk mengisi posisi Komandan Batalyon 1 Kawal Kehormatan Cakrabirawa.

Dikira Copet

Untung merupakan sosok prajurit sederhana, tidak ambisius. Jauh dari intrik politik para perwira. Untung merupakan salah satu perwira yang kecewa dengan kepemimpinan Jenderal Ahmad Yani.

Yang membuat Untung kecewa adalah adanya kesenjangan kesejahteraan antara para prajurit dengan para jenderal.

Kekecewaan para perwira seperti Untung ini dipelihara oleh Biro Khusus PKI bentukan Aidit. Untung bersama Syam dari Biro Khusus PKI sering mengadakan diskusi. Letkol Untung adalah tipikal seorang tentara sejati. Ia bekerja sesuai perintah pimpinan.

Pagi 4 Agustus 1965, Sukarno beberapa kali pingsan. Ketika Bung Karno sadar, Untung mendekati Presiden. Terjadila percakapan singkat antar keduanya.

“Apa kau mau menerima perintah yang mencakup tindakan terhadap para jenderal yang tidak loyal?” tanya Sukarno.

Jenderal yang tidak loyal terhadap Sukarno disebut-sebut membentuk wadah bernama Dewan Jenderal.

“Jika bapak membiarkan kami menindak para jenderal, saya akan melaksanakan perintah apapun dari Pemimpin Besar,” jawab Untung.

Perintah menindak dari Sukarno ini diterjemahkan bebas oleh Untung dan pasukannya yang menculik para jenderal pada peristiwa berdarah 30 September 1965.

Untung dipilih sebagai komandan gerakan karena ia salah satu komandan pasukan presiden.

Bagi Untung, gerakan 30 September 1965 itu adalah suatu keharusan dirinya sebagai anggota cakrabirawa yang bertanggungjawab terhadap keselamatan Presiden.

Untung menggerakkan pasukan Cakrabirawa dan kesatuan lain menculik para jenderal lalu membawanya ke Lubang Buaya.

Gerakan ini gagal total. Pangkostrad Suharto mampu menguasai keadaan. Sementara keberadaan Untung tidak diketahui.

Pada 11 Oktober 1965, Untung menaiki bus dari Jakarta menuju Solo dengan menyamar sebagai orang biasa.

Menjelang sampai di Terminal Tegal, Untung melihat ada pemeriksaan oleh tentara. Panik dan khawatir ketahuan, Untung memutuskan lompat dari bus.

Saat lompat, tubuhnya membentur tiang listrik. Orang sekitar yang melihat, mengira Untung adalah copet. Ia pun diteriaki copet lalu dikejar massa.

Untung sempat bersembunyi di perkampungan warga namun ketahuan. Alhasil Untung menjadi bulan-bulanan warga.

Ia lalu dibawa ke Markas CPM Tegal. Saat diperiksa, barulah terbongkar bahwa orang yang diperiksa itu adalah buronan nomor wahid Angkatan Darat.

Untung lalu dibawa ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Hukuman untuk Untung

Pada 23 Februari 1966, barikade massa menyemut di pelataran parkir gedung Bappenas, Jakarta. Lalu datang sebuah panser. Dari panser, turun lelaki cepak bertubuh tegap menggigil ketakutan.

Kepalanya menunduk. Letkol Untung takut menatap ratusan orang yang menghujaninya dengan hujatan.

Untung sempat gamang ketika akan menembus barikade massa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Saat berjalan memasuki gedung, Untung terus mendapat cemoohan dan hujatan dari massa.

Hari itu Untung menjalani sidang di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Setelah melalui sejumlah persidangan, Mahmilub menyatakan Untung bersalah melakukan kejahatan makar.

Untung dijatuhi hukuman mati. Tak lama berselang, Untung dieksekusi mati oleh regu tembak.

About the author: redaksi

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *