Heboh! Kampus UGM Disusupi Eks Anggota Afiliasi PKI

Ilustrasi kampus dan PKI. [ChatGPT]
Ilustrasi kampus dan PKI. [ChatGPT]

Beberapa waktu belakangan ini, kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) dihebohkan dengan polemik keaslian ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo alias Jokowi.

Nah di tahun 1988, UGM juga pernah viral sebab salah satu staf pengajarnya ditengarai terlibat dalam organisasi terlarang yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dia adalah Drs HJ Koesoemanto, asisten ahli di Fisipol UGM. Namanya jadi perbincangan setelah berita di harian Masa Kini, Yogyakarta, 27 Oktober 1988, menuding Koesoemanto terkait dengan PKI.

Koesoemanto dulunya bernama Johan Koo Som Iet. Saat masih menjadi mahasiswa di Fisipol UGM tahun 1960 an, dia tergabung dalam organisasi Chung Hua Tsung Hui (CHTH).

Organisasi ini merupakan cikal bakal Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), salah satu “organisasi mantel” PKІ.

Koesoemanto yang saat itu masih bekerja di Gadjah Mada University Press (GMUP) enggan mengomentari tudingan itu.

“Silakan tanya kepada Rektor, yang berhak menjawabnya,” katanya singkat dikutip dari pemberitaan Majalah Tempo edisi 5 November 1988.

Koesoemanto. [majalah tempo]
Koesoemanto. [majalah tempo]

Sebenarnya, Koesoemanto sudah dua kali diberhentikan dari UGM pada tahun 1971 dan 1980. Namun putusan itu ternyata tidak dilaksanakan.

Pada 1971, Rektor UGM, Soeroso, MA, memberhentikan Koesoemanto dengan hormat sebagai staf pengajar Fisipol UGM. Tapi SK itu juga mengangkatnya sebagai penanggung jawab Bagian Percetakan dan Penerbitan UGM.

Lalu pada 14 Februari 1980, Rektor UGM berikutnya, Soekadji Ranuwihardjo, menerima edaran Irjen Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengenai skrining terhadap para dosen yang terlibat G-30-S/PKI golongan C2 dan C3.

Berdasarkan edaran itu, Soekadji memberhentikan Koesoemanto dengan hormat sebagai penanggung jawab Bagian Per-cetakan dan Penerbitan UGM, karena ia dinilai terlibat G-30-S/PKI dan termasuk golongan C2.

Golongan C2, adalah Golongan C yang menjadi anggota biasa bekas organisasi massa terlarang yang seazas dengan/bernaung atau berlindung di bawah bekas PKI.

Tapi nyatanya, Koesoemanto tidak juga hengkang dari UGM. Dia masih bekerja di Gadjah Mada University Press. Rektor UGM tahun 1988, Koesnadi Hardjasoemantri, punya alasan mengenai hal ini.

Menurutnya, Koesoemanto memiliki jasa besar sebagai perintis dan pengembang GMUP dan belum menemukan gantinya. Itulah sebabnya UGM masih mempertahankannya.

Walau begitu Rektor Koesnadi menyampaikan tidak sampai setahun ini Koesoemanto sudah akan keluar dari UGM. Selama ini, kata Koesnadi, Koesoemanto tetap diawasi dan sejauh ini tidak pernah ditemukan hal-hal yang mencurigakan.

Memang Di bawah pimpinan Koesoemanto, lembaga percetakan UGM maju. Apalagi setelah ia kembali dari Negeri Belanda pada 1967, untuk mempelajari seluk beluk percetakan dan penerbitan di sana.

Pada 1978 lembaga itu berganti nama menjadi Gadjah Mada University Press, dan berkembang pesat. Bahkan belakangan mampu mendirikan sa-rana percetakan di Jalan Grafika, masih dalam kompleks UGM.Cukup banyak buku ilmiah yang diterbitkannya. Sebagian besar laris.

About the author: redaksi

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *