![Ilustrasi Kartini. [ChatGPT]](https://lampau.id/wp-content/uploads/2025/11/kartini-batik.jpg)
Jadoelers tau nggak? Ternyata Raden Ajeng Kartini sudah melakukan kampanye batik ke dunia internasional semasa hidupnya.
Dalam buku “Panggil Aku Kartini Saja’ karya Pramoedya Ananta Toer ditulis bahwa Kartini dan para saudarinya membatik sendiri.
Ini diketahui dari buku harian Dr N Adriani, seorang pemuka jemaat Protestan terkemuka. Dalam bukunya, Adriani mengaku bertemu Kartini dan dua saudarinya di Batavia mengenakan kebaya sutra putih, berkonde dan berkalung emas tipis.
“Ketiganya mengenakan sarung batik indah, buatan sendiri, berwarna cokelat memikat,” tulis Adriani menggambarkan pertemuannya dengan Kartini di tahun 1900.
Kartini belajar membatik dari seorang guru bernama Mbok Dullah sejak usia 12 tahun, ketika meninggalkan bangku sekolah untuk selamanya dan masuk dalam pingitan.
Batik hasil karya sendiri ini pernah dihadiahkan Kartini kepada Nyonya Abendanon, istri Direktur Departemen Pengajaran dan Ibadah. Nyonya Abendanon sempat mendokumentasikan batik Kartini dalam bentuk potret dan mereproduksinya.
Bagi Kartini, batik adalah seni rakyat Pribumi yang sangat membanggakan. Tak heran dia selalu memakai batik setiap menghadiri acara-acara penting.
Tak hanya membatik, Kartini juga mempelajari seni ini secara mendalam. Dia membuat studi dan catatan-catatan tentang batik.
Hasilnya adalah sebuah naskah tentang batik yang berjudul Handcrift Japara yang ditulis dalam bahasa Belanda.
Tanpa sengaja, naskah ini dibaca Ibu Suri Kerajaan Belanda saat menghadiri Pameran Nasional untuk Karya Wanita di Den Haag pada tahun 1898, di mana umur Kartini saat itu masih 19 tahun.
Saat berkeliling di arena pameran, mata Ibu Suri Kerajaan Belanda tertuju pada sebuah stand bertuliskan “Jawa”. Ia mampir melihat-lihat kerajinan dan seni rakyat Hindia Belanda.
Ada satu yang menyita perhatiannya adalah batik. Ibu Suri lalu membolak-balik tulisan tentang seluk beluk batik di stand itu. Ya tulisan tersebut adalah Handcrift Japara karya Kartini.
Keterlibatan Kartini dalam pameran internasional tersebut tak lepas dari upayanya selama ini memperkenalkan kerajinan tangan dan seni rakyat ke masyarakat luas.
Setahun berlalu. Kartini mendapat kabar bahwa naskahnya tentang batik itu akan diterbitkan dalam buku berjudul “De Batikkunst ini Ned Indie en hare Geschiedenis karangan GP Rouffaer dan Dr HH Juynboll.
Buku dua orang indolog ini dibuat karena terinspirasi dari Naskah Handcrift Japara karya Kartini. Dalam kata pengantar buku Rouffear dan Juynboll ditulis bahwa tulisan Raden Ajeng Kartini merupakan bagian penting dari Bagian Pertama.
Handcrift Japara ternyata memiliki peran besar dalam memperkenalkan batik ke dunia internasional. Minat orang Belanda terhadap seni Rakyat Hindia meningkat setelah adanya naskah Kartini itu.
