Panglima TNI Ambil Langkah Berani: Tarik Perwira Muda Jadi Ajudan

Ilustrasi ajudan. [ChatGPT]
Ilustrasi ajudan. [ChatGPT]

Ada kisah menarik dari dua mantan Panglima TNI yang menolak posisi bernama ajudan. Berikut ceritanya.

Menarik Perwira Muda

Jenderal M Jusuf dilantik menjadi Panglima ABRI pada 17 April 1978. Presiden Suharto sebagai Inspektur Upacara memberikan sejumlah instruksi kepada Panglima yang baru.

Salah satunya adalah mengenai regenerasi di tubuh ABRI.

Suharto mengatakan, generasi lama yang ikut dalam perang kemerdekaan akan segera diganti oleh generasi berikutnya.

Karena itu Jusuf diminta untuk menyiapkan generasi-generasi penerus di ABRI yang akan menggantikan peran para seniornya.

Lalu pada akhir Januari 1980, Jusuf membuat kebijakan yang berkaitan dengan regenerasi di tubuh ABRI.

Ia memerintahkan seluruh kepala staf dan Kapolri menarik semua perwira muda lulusan AKABRI berpangkat Letda hingga mayor yang menjadi ajudan ke induk pasukannya.

Menurut Jusuf, para perwira muda itu disekolahkan di AKABRI bukan untuk menjadi ajudan melainkan menduduki jabatan di satuan lapangan.

“Ini sama sekali tidak tepat dan tidak membantu pengembangan karier mereka,” tegas jenderal asal Bugis ini.

Tidak hanya di lingkungan TNI, perwira yang menjadi ajudan menteri juga ditarik.

Jusuf menyarankan ajudan para menteri diambil dari kepolisian yang usianya sudah di atas 48 tahun ke atas.

“Sebaiknya diambil dari Polri saja. Kalau tentara kan banyak kerjaan,” kata Jusuf.

“Apakah tidak terlalu tua?” tanya wartawan.

“Ah, tidak. Malah mereka cocok dengan pejabatnya yang juga sudah tua-tua,” kilah Jusuf disambut tawa para wartawan.

Menolak Jadi Pengawal Presiden

Di tahun 1964, Benny Moerdani pernah dipanggil Presiden Soekarno ke Istana. Ketika itu Benny Moerdani sebagai Komandan Batalyon I RPKAD berpangkat mayor.

Sepanjang pembicaraan, Presiden Soekarno menekankan mengenai pentingnya keberadaan pasukan elit di tubuh tentara.

Menurut Bung Karno, pasukan elit dibutuhkan untuk melindungi negara dari ancaman musuh. Namun ada satu hal lain yang juga penting bagi Bung Karno.

Keberadaan pasukan elit kata Presiden Sukarno harus selalu siap sedia melindungi kepala negara. Presiden Soekarno lalu menawarkan Benny Moerdani bergabung ke pasukan Tjakrabirawa.

Tjakrabirawa adalah pasukan khusus yang bertugas mengawal Presiden Soekarno. Tawaran Presiden Soekarno itu membuat Benny Moerdani tersentak.

Benny terdiam beberapa saat. Ia bingung harus menjawab apa. Benny tak ingin menjadi bagian dari Tjakrabirawa. Namun ia tidak mungkin menolak permintaan Presiden.

Benny harus benar-benar memiliki alasan khusus untuk bisa menolak secara halus tawaran Presiden Soekarno.

“Bapak Presiden, Saya ingin jadi tentara yang betulan,” jawab Benny.

Bung Karno tak terima alasan Benny Moerdani.

“Lho, apa kau pikir Tjakrabirawa bukan tentara,” teriak Bung Karno memecah kesunyian istana negara.

Bagi Benny Moerdani, pasukan Tjakrabirawa adalah pasukan tidak ada nilainya. Benny Moerdani dibesarkan sebagai prajurit komando yang tugasnya untuk bertempur.

Namun Tjakrabirawa dibentuk bukanlah untuk tugas pertempuran.

Dalam bayangan Benny Moerdani, seorang anggota Tjakrabirawa tugasnya hanya berdiri siaga menjaga keamanan pribadi seseorang dalam hal ini presiden.

Bagi Benny itu bukanlah tugas seorang militer profesional.

Tapi alasan itu tidak mungkin Benny Moerdani ungkapkan di hadapan Presiden Soekarno atasannya yang juga membentuk Tjakrabirawa.

Benny Moerdani pun menjawab pertanyaan Presiden Soekarno.

“Tidak begitu pak. Saya ingin menjadi komandan brigade lebih dulu,” Benny Moerdani ngeles.

Jawaban ini Benny Moerdani kemukakan agar Presiden Soekarno tidak bisa lagi menawar.

Untuk menjadi komandan Brigade, tentu memerlukan waktu yang agak panjang karena Benny Moerdani saat itu masih berpangkat mayor.

Bung Karno tidak lagi melanjutkan topik pembicaraan mengenai tawarannya kepada Benny Moerdani menjadi pasukan Tjakrabirawa.

About the author: redaksi

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *