Ketika Keimanan Syafruddin Prawiranegara Terguncang Usai Baca Das Kapital

Ilustrasi Syafruddin Prawiranegara. [Gemini]
Ilustrasi Syafruddin Prawiranegara. [Gemini]

Halo Jadoelers! Kali ini kami akan ngebahas tokoh bangsa Syafruddin Prawiranegara. Pak Syaf ini adalah salah satu tokoh bangsa yang ikut berjuang di masa kemerdekaan.

Blio memegang peranan penting saat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta ditangkap Belanda di masa Agresi Militer Belanda II.

Untuk mengisi kekosongan pemerintahan, Bung Karno memberikan mandat ke Pak Syaf supaya membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Pak Syaf diberi mandat sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan darurat Republik Indonesia. Bisa dibilang Pak Syafruddin ini adalah Presiden ke-2 RI di masa darurat.

Sayangnya namanya tidak setenar Soekarno dan Hatta. Sehingga banyak gen Z yang ga tau dengan sosok Pak Syafruddin Prawiranegara.

Karena itu nggak ada salahnya kan kalo kami mau sedikit ngebahas mengenai sosok Syafruddin Prawiranegara.

Asal Usul

Pak Syaf lahir pada 28 Februari 1911. Ayahnya, Raden Arsyad Prawiraatmaja, adalah seorang priyayi berdarah Banten. Sementara ibunya, Nuraini adalah keturunan Minangkabau.

Raden Arsyad adalah orang yang religius. Ia pernah mengenyam pendidikan di pesantren untuk mendalami agama Islam.

Saat usia Syafruddin baru menginjak satu tahun, orang tuanya bercerai. Nuraini, sang ibu, tak suka melihat kelakuan suaminya yang sering menari tayuban sambil minum minuman keras.

Dalam budaya priyayi di Jawa, ada kebiasaan yang namanya tayuban. Tayuban adalah acara menari para priyayi bersama para ronggeng muda dan cantik.

Di acara tayuban itu, para priyayi berpesta meminum minuman keras. Raden Arsyad, ayah Syafruddin, tak bisa lepas dari kebiasaan itu.

Itulah yang membuat istrinya marah. Nuraini meminta Raden Arsyad meninggalkan kebiasaan jelek itu. Tapi, Raden Arsyad tak bisa memenuhi keinginan sang istri. Maka terjadilah perceraian itu.

Syafruddin ikut sang ayah yang menikah lagi dengan putri bangsawan Banten bernama Epoh. Raden Arsyad membesarkan Syafrudin dengan pendidikan barat.

Namun tidak meninggalkan pendidikan agama bagi Syafruddin. Sejak kecil, Syafruddin diajarkan menjalankan syariat Islam dan mengaji Alquran.

Ini berbeda dengan kehidupan priyayi yang menempuh pendidikan di sekolah Belanda. Umumnya para priyayi seperti ini hidupnya jauh dari rakyat dan tidak menjalankan rukun Islam.

Raden Arsyad sendiri bersimpati dengan gerakan Sarekat Islam. Merasa cocok, ia bergabung menjadi anggota Sarekat Islam. Belanda saat itu menganggap Sarekat Islam adalah organisasi berbahaya.

Keterlibatan Raden Arsyad dalam Sarekat Islam membuatnya dibuang ke Ngawi, Jawa Timur. Pindahlah Raden Arsyad ke Ngawi membawa Syafruddin.

Karena di Ngawi tidak ada sekolah MULO, maka Syafruddin dititipkan di tempat kerabatnya di Madiun.

Setamat dari MULO, Syafruddin melanjutkan sekolah di AMS bagian A di Bandung. AMS adalah sekolah setingkat SMA.

Tertarik dengan Komunisme

Syafruddin sejak kecil hobi membaca. Ia melahap buku apa saja. Saat sekolah di AMS, dia membaca buku-buku tentang sosialisme dan komunisme.

Ketertarikannya terhadap paham sosialisme dan komunisme disebabkan pecahnya Pemberontakan Petani di Banten tahun 1926.

Banyak keluarga Syafruddin yang terlibat dalam pemberontakan itu dibuang ke Digul.

Yang membuat heran Syafruddin, pemberitaan di media massa menyebut pemberontakan petani itu adalah pemberontakan komunis.

Padahal Syafruddin tahu betul, keluarganya yang terlibat pemberontakan itu, adalah para kiai yang memegang teguh syariat Islam.

Itulah yang menimbulkan tanda tanya di hatinya. Apakah Islam sama dengan komunis? Pertanyaan itu berkecamuk dalam kepalanya.

Untuk mendapat jawabannya, mau tak mau Syafruddin membaca buku-buku tentang komunisme. Syaf membaca buku berjudul Das Kapital karangan Karl Marx.

Buku Das Kapital adalah sumber ajaran komunis. Syafruddin juga membaca buku Manifesto Komunis yang disusun Karl Marx dan Engels.

Membaca buku tentang komunis membuat kepercayaan agama Syafruddin terguncang. Ia mulai terpengaruh dengan ajaran komunis.

Komunis tidak percaya adanya Tuhan karena menganggap segala sesuatu yang ada dunia ini berwujud benda atau materialisme.

Ajaran komunis juga tidak percaya dengan adanya kehidupan setelah kematian. Bagi komunis hidup yang nyata adalah hidup yang ada saat ini.

Jika tidak percaya dengan Tuhan, timbul pertanyaan di benak Syafruddin. Bagaimana orang-orang komunis akan percaya terhadap takdir yang ditentukan Tuhan?

Semua ajaran komunis ini bertentangan dengan ajaran Islam yang selama ini ia anut. Mulailah timbul kegoncangan di diri Syafruddin.

Selama bertahun-tahun Syafruddin diombang-ambing kebimbangan, antara percaya atau tidak dengan paham komunis.

Kegamangan ini masih ia alami ketika sudah menamatkan pendidikan di AMS tahun 1931. Selesai dari AMS, Syafruddin melanjutkan pendidikan ke RHS, sekolah tinggi hukum di Jakarta.

Sebenarnya Syafruddin tidak tertarik dengan ilmu hukum. Dia ingin kuliah di perguruan tinggi sastra. Saat itu di Indonesia belum ada perguruan tinggi sastra.

Jika Syaf ingin kuliah sastra ia harus terbang ke Belanda. Namun apa daya ia tak cukup memiliki uang untuk pergi ke Belanda.

Maka secara terpaksa ia menempuh kuliah di RHS. Studinya di RHS sempat terhenti selama 3 tahun. Ini karena kesibukan batinnya mencari kebenaran mengenai komunis.

Syafruddin baru menemukan jawaban atas pertanyaan batinnya selama ini ketika sang ayah wafat. Pada 3 Maret 1939, Raden Arsyad, ayah Syafrudin, menghadiri rapat di Kediri.

Rapat itu diselenggarakan untuk pemilihan anggota DPRD Jawa Timur. Raden Arsyad pidato berapi-api di acara rapat itu. Ia mengutip ayat-ayat Alquran dalam pidatonya itu.

Tiba-tiba ketika sedang berpidato, Raden Arsyad terjatuh dari podium. Tak lama kemudian Raden Asryad mengembuskan napas terakhir. Ia wafat di usia yang masih muda yaitu 49 tahun.

Peristiwa ini mengagetkan Syafruddin. Ia tak mengira ayahnya meninggal secara tiba-tiba. Ada hikmah tersimpan dari peristiwa duka ini.

Syafruddin menyadari adanya takdir Tuhan yang tidak dielakkan dan tidak diketahui manusia. Bagi dia, peristiwa kematian merupakan bukti adanya kekuasaan yang berada di atas keinginan manusia. Yaitu kekuasaan Tuhan.

Sejak itulah ia yakin dan mantap dengan Islam. Tak ada lagi keraguan dalam diri Syafruddin dalam mengimani Islam. Tak heran, Syafruddin memilih Partai Masyumi sebagai wadah perjuangannya.

Masyumi adalah partai Islam yang diisi oleh kader-kader ormas Islam. Sejak bergabung dengan Masyumi inilah, Syafruddin menyadari pengetahuannya akan Islam begitu dangkal.

Syafruddin memang menjalankan syariat Islam dengan taat. Tapi ia tak memahami isi Alquran karena tidak bisa berbahasa Arab. Ia berjanji akan mempelajari Alquran menggunakan bahasa aslinya yaitu bahasa Arab.

Biarpun sudah mantap dengan iman Islamnya, Syafruddin tetap setuju dengan beberapa prinsip sosialisme.

Prinsip yang Syafruddin tolak dalam sosialisme ialah filsafat materialisme yang tidak mengakui eksistensi Tuhan.

Mengenai Karl Marx, Syafruddin memberi catatan tersendiri.

Syafruddin mengakui, tidak ada orang di dunia ini setelah Nabi Muhammad SAW, yang mampu menggoncangkan pikiran manusia begitu kuat seperti Marx.

Tidak ada satu ajaran yang dapat mengadakan perubahan radikal di seperenam bagian dunia seperti ajaran Marx.

Seandainya Marx tidak memusuhi agama, ia bisa dijadikan nabi oleh para pengikutnya. Kata Syafruddin, Karl Marx adalah nabi bagi penganut paham sosialisme dan komunis.

Menurut Syafruddin, Karl Marx hanya mengemukakan separuh kebenaran dalam ajarannya. Alam benda memang penting untuk kehidupan manusia. Tapi bukan berarti tidak ada yang lebih berkuasa dari manusia.

Manusia hidup tidak seperti binatang. Manusia memerlukan norma-norma yang tidak terdapat dalam alam benda.

Norma itu datang dari rasa Ketuhanan. Itulah kata Syafruddin, perbedaan mendasar paham Marxisme dengan agama seperti Islam dan Kristen.

About the author: redaksi

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *