TNI AU: Dulu Ditakuti Dunia lalu Dikebiri era Orba

Ilustrasi TNI AU. [ChatGPT]
Ilustrasi TNI AU. [ChatGPT]

TNI Angkatan Udara (AU) pernah disegani di dunia. Di era Presiden Sukarno, AU menjelma menjadi kekuatan angkatan bersenjata yang ditakuti.

Alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI AU menjadi salah satu yang terhebat di Asia. Negara tetangga gentar melihat deretan pesawat yang dimiliki TNI AU.

Sayang, nama TNI AU yang saat itu bernama Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) tercemar. Pecahnya Tragedi 30 September 1965 membuat AURI terpojok.

AURI yang ditakuti menjadi AURI yang dibenci. Berikut ini akan kami bahas sejarah terbentuknya AURI hingga menjelma menjadi kekuatan besar.

Penerbangan Pertama

Perintis awal terbentuknya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) adalah Suryadi Suryadarma. Suryadarma dikenal sebagai Bapak Angkatan Udara.

Suryadarma adalah perwira lulusan Akademi Militer Breda, Belanda. Ia pernah mengikuti Sekolah Penerbang Belanda di Kalijati dan sekolah navigasi dan pengintai udara.

Di era penjajahan Jepang, Suryadarma menjadi seorang polisi. Setelah Jepang menyerah pada sekutu, Bung Karno bersama Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan.

Masa itu Suryadarma menjadi anggota Badan Keamanan Rakyat (BKR) Priangan. Urip Sumoharjo lalu mengajak Suryadarma untuk membantunya membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Saat sedang berdiskusi mengenai pembentukan TKR, masuk berita mengenai penemuan banyak pesawat di sejumlah tempat di Pulau Jawa.

Pesawat-pesawat itu adalah peninggalan Angkatan Udara Jepang. Mendengar kabar itu, Suryadarma mengusulkan pembentukan TKR Udara ke Urip.

Urip lalu membawa gagasan itu ke Menteri Pertahanan yang kemudian disetujui mendirikan TKR Djawatan Penerbangan.

Segera Suryadarma memanggil Agustinus Adisucipto, mantan muridnya di Sekolah Penerbang Kalijati.

Adisucipto adalah penerbang yang memegang ijazah Groet Militair Brevet atau Brevet Penerbang Tingkat Atas. Adisucipto lalu dikirim ke Lapangan Udara Cibeureum, dekat Tasikmalaya .

Saat itu di Lapangan terbang Cibereum ditemukan beberapa pesawat eks Jepang di antaranya adalah pesawat latih Nishikoren dan Cukiu.

Beberapa teknisi eks Militaire Luchtvaart atau Angkatan Udara Hindia Belanda Pangkalan Udara Andir berhasil memperbaikinya. Namun tidak ada satu pun yang bisa menerbangkannya.

Itulah alasan Adisucipto dikirim ke Lapangan Udara Cibereum. Ia diminta menerbangkan pesawat eks Jepang tersebut.

Di sana, Adisucipto berusaha memahami pesawat Nishikoren, pesawat buatan Jepang yang belum pernah ia sentuh. Tak ada satu satu lembar pun dokumen atau buku panduan mengenai pesawat tersebut.

Akhirnya Pada 10 Oktober 1945, Adisucipto berhasil menerbangkan pesawat Nishikoren, pesawat yang sangat asing baginya. Itulah penerbangan bersejarah dalam dunia penerbangan Indonesia.

Untuk pertama kalinya seorang penerbang Indonesia menerbangkan pesawat berlogo merah putih di alam kemerdekaan.

Ini juga prestasi luar biasa untuk Adisucipto yang sudah tiga tahun tidak menerbangkan pesawat, sejak Belanda menyerah dari Jepang.

Adisucipto bersama Tarsono Rudjito, lalu berangkat ke Yogyakarta menemui teknisi bernama Basir Surya. Di sana Basir memperbaiki pesawat Cureng.

Setelah itu Adisucipto menerbangkan pesawat Cureng yang sudah diberi logo merah putih pada 27 Oktober 1945 mengelilingi lapangan terbang Maguwo selama 30 menit.

Keesokan harinya, tepatnya pada perayaan Hari Sumpah Pemuda, Adisucipto kembali menerbangkan pesawat Cureng mengelilingi kota Yogya.

Saat itu sedang ada rapat raksasa di Alun alun Kota Yogya yang dihadiri Presiden Sukarno dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Jasa Orang Jepang

Pada 5 Oktober 1945, pemerintah membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Lalu pada 12 November 1945, TKR menggelar konferensi pertama yang dihadiri seluruh Panglima Divisi dan Komandan resimen.

Pada konferensi itu para peserta sepakat untuk mengembangkan kekuatan udara. Lalu Kepala Staf Umum TKR Letjen Urip Sumoharjo membentuk Jawatan Penerbangan sebagai bagian dari TKR.

Dan menunjuk Suryadarma sebagai Kepala TKR Jawatan Penerbangan dan Sukarnen Martokusumo sebagai wakilnya.

Dalam rangka mengembangkan kekuatan udara, tugas pertama TKR Jawatan Penerbangan adalah memperbaiki pesawat-pesawat peninggalan jepang.

Suryadarma lalu memanggil para teknisi eks Sekolah Penerbang Kalijati untuk memperbaiki pesawat yang sudah tua milik Jepang itu.

Kondisi pesawat ternyata sudah sangat parah. Banyak onderdil yang hilang. Petunjuk yang ada hanya buku panduan yang menggunakan bahasa Jepang.

Para teknisi tentu saja kesulitan memperbaiki pesawat-pesawat tersebut. Di tengah kebuntuan, tiba-tiba muncul seorang penerbang mantan angkatan Udara Jepang.

Dia bernama The Sinkai. Sinkai secara sukarela ingin bergabung dengan TKR Jawatan Penerbangan. Kehadiran Sinkai disambut baik.

Ia diterima dan diberi tugas menerjemahkan dokumen pesawat berbahasa Jepang ke Bahasa Indonesia. Berkat bantuan Sinkai, perbaikan pesawat-pesawat Jepang itu bisa terlaksana.

Sinkai kemudian menikah dengan wanita Indonesia dan mengganti namanya menjadi Suhanda. Pada pertengahan tahun 50-an, Suhanda memilih untuk pulang ke Jepang. Kepulangannya ini dalam rangka mengurus orang tuanya yang sudah lanjut usia.

Akhirnya pada 9 April 1946, Presiden Sukarno menetapkan berdirinya Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI Udara).

Sukarno menunjuk Suryadarma sebagai Kepala Staf TRI Udara. Atas dasar itu, tanggal 9 April ditetapkan sebagai Hari jadi Angkatan Udara.

Korban Gugur Pertama

Setelah terbentuk sebagai angkatan tersendiri, TRI Udara mulai aktif melakukan latihan penerbangan. Latihan digelar sampai ke luar Pulau Jawa.

Pada 27 Agustus 1946, dilakukan penerbangan cross country dari Maguwo menuju Branti, Lampung melewati Banten Selatan.

Penerbangan menggunakan 6 pesawat jenis Nishikoren, Cukiu dan Cureng. Saat perjalanan pulang kembali ke Maguwo, dua pesawat mengalami kerusakan mesin.

Pesawat pertama yang dikemudikan Opsir Udarat II Iswahyudi dan ditumpangi Komodor Udara Suryadi Suryadarma.

Kerusakan mesin membuat pesawat harus mendarat darurat di Pantai Pameungpeuk, daerah Garut Selatan, Jawa Barat. Dalam pendaratan darurat itu, keduanya selamat. Suryadarma hanya mengalami luka ringan.

Pesawat kedua yang mengalami kerusakan mesin dikemudikan Komodor Udara Agustinus Adisucipto dan ditumpangi Opsir Udara II Tarsono Rudjiito.

Pesawat mereka mendarat darurat di Pantai Cipatujah, Tasikmalaya, Jawa Barat. Saat melakukan pendaratan darurat, pesawat dalam kecepatan tinggi, hingga roda membentur sebatang pohon kelapa yang melintang.

Akibatnya pesawat jatuh terbalik. Adisucipto berhasil menyelamatkan diri.  Sedangkan Tarsono gugur. Tarsono tercatat sebagai korban pertama dari AURI dalam melaksanakan tugasnya.

Jenazah Tarsono dimakamkan di Salatiga. Diadakan upacara penghormatan tabur bunga dari udara sebagai bentuk penghargaan terhadap Tarsono.

Menjadi Kekuatan yang Ditakuti

TNI AU atau AURI pernah menjadi kekuatan yang paling ditakuti di dunia. Ini terlihat dari jejeran pesawat yang dimiliki AURI di periode tahun 50 dan dan 60 an.

Pernah di tahun 1955, Perdana Menteri Myanmar U Nu tiba di Pangkalan Udara Husein Sastranegara. U Nu sampai terkesima melihat jejeran pesawat pengebom North America B-25 Mitchel.

“Saya tidak pernah melihat begitu banyak pesawat terbang terpakir berbarengan,” ujar U Nu.

Di tahun 50 an, Indonesia memiliki 300 an pesawat terbang.

“AURI merupakan kekuatan udara paling ditakuti di Asia Tenggara,” tulis majalah penerbangan Belanda.

Di tahun 60 an, kekuatan AURI makin menggetarkan dunia. Terutama ketika Pesawat pengebom strategis Tupolev Tu-16 buatan Uni Soviet dan jet tempur supersonik Mikoyan-Gurevich MiG-21 mendarat di tanah air.

Daya pengebom Tu-16 disebut sebanding dengan pesawat pengebom supersonik Convair B-58 Hustler asal Amerika.

Indonesia menjadi negara keempat di dunia yang mengoperasikan jet pengebom selain Amerika Serikat, Inggris, dan Uni Soviet.

Sementara MiG-21 kala itu ialah jet tempur penghadang paling ditakuti Blok Barat.

Kedatangan pesawat-pesawat itu ke Indonesia diintai oleh Amerika lewat pesawat mata-mata yang diterbangkan dari Jepang.

AURI lalu melakukan unjuk kekuatan dengan menerbangkan pesawat-pesawat itu ke angkasa.

Begitu melihat jejeran pesawat canggih milik AURI, Amerika langsung meminta Belanda membatalkan niat berperang secara terbuka dengan Indonesia dalam konfrontasi Irian Barat.

Apalagi Tu-16 dilengkapi rudal untuk menembak dan menenggelamkan Kapal Induk Karel Doorman milik Belanda di perairan Irian Barat.

Indonesia tidak hanya ditakuti di Asia Tenggara tapi juga di kawasan Asia Pasifik. China dan Australia ketika itu belum memiliki armada jet pengebom strategis.

Majalah penerbangan Inggris, Air Pictorial, sampai menulis dalam laporannya, “Ditilik dari sudut materiil, Angkatan Udara Australia ketinggalan total dari Angkatan Udara Indonesia.”

Sayang kekuatan TNI AU mulai pudar karena terseret dalam pusaran Gerakan 30 September 1965.  Saat Suharto resmi berkuasa, AURI makin dikebiri. Banyak pesawatnya dilarang terbang dan pabrik roket ditutup.

AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T-Bird dari Amerika. Padahal Tu-16 adalah pesawat paling canggih di masa itu yang membuat kekuatan AURI ditakuti dunia.

About the author: redaksi

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *