![Ilustrasi Agum Gumelar. [ChatGPT]](https://lampau.id/wp-content/uploads/2025/11/agum-gumelar-jenderal-rebel.jpg)
Halo Jadoelers! Kenal dengan Jenderal (Purn) Agum Gumelar? Blio adalah mertua dari Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Taufik Hidayat.
Dia merupakan salah satu tokoh yang mendapat penghargaan Bintang Republik Indonesia dari Presiden Prabowo Subianto pada 25 Agustus 2025 lalu.
Saat ini Eyang Agum menjabat sebagai Ketua Umum Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (Pepabri). Namun banyak yang tidak tahu kiprahnya selama menjadi anggota TNI.
Usut punya usut nih, Eyang Agum ini termasuk tentara rebel loh. Dia pernah melawan perintah atasannya, Presiden Soeharto.
Coba bayangin, tentara yang identik siap komandan, tiba-tiba nggak nurut sama Pak Bosnya. Seperti apa ceritanya? Simak terus artikel ini sampai tandas ya.
Latar Belakang: Fusi Partai dan Lahirnya PDI
Flashback dulu ke era Soeharto. Waktu itu, pemerintah lagi getol nyederhanain partai politik biar kondisi politik stabil dan pembangunan ekonomi bisa jalan mulus.
Singkatnya, muncul ide buat nyatuin partai-partai jadi tiga kelompok besar yaiyu Golongan spirituil (agama), Golongan nasionalis, Golongan karya.
Tapi ya namanya politik, nggak semua langsung cocok. Setelah berbagai drama dan percobaan gabung sana-sini, akhirnya lahirlah dua partai besar baru yakni PPP (gabungan partai-partai Islam) dan PDI (gabungan PNI, Parkindo, Partai Katolik, IPKI, dan Murba).
Nah, PDI inilah yang nantinya bakal melahirkan PDI Perjuangan-nya Megawati Soekarnoputri.
Awal Konflik Internal
Begitu PDI berdiri, langsung deh muncul gesekan internal. Soalnya, masing-masing partai asal bawa “warna” ideologinya sendiri. Ada yang ngerasa partai lain terlalu kiri, ada yang dianggap nggak loyal, dan sebagainya.
Sampai akhirnya muncul harapan baru. Dia adalah Megawati Soekarnoputri. Sebagai anak Bung Karno, banyak yang berharap Mega bisa jadi penyejuk di tengah konflik itu.
Kongres Luar Biasa dan “Perlawanan” Agum
Tahun 1993, diadakan Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Surabaya. Mega dicalonkan jadi ketua umum, tapi Soeharto nggak setuju. Pemerintah malah pengin dukung calon lain.
Nah, di sinilah peran Agum Gumelar dimulai. Waktu itu, beliau menjabat Direktur A BAIS (Badan Intelijen Strategis) dengan pangkat Brigjen.
Tugas resminya? “Mengamankan” jalannya KLB. Tapi konteks “mengamankan” ini sebenernya adalah menghalangi Mega jadi ketua umum.
Tapi apa yang dilakukan Agum? Dia malah membiarkan KLB berjalan lancar tanpa intervensi pemerintah!
Bahkan waktu ada pihak yang mau ngacauin kongres, Agum tegas bilang:
“No, no, no! Biarin mereka berpesta demokrasi!”
Dan hasilnya? Megawati resmi jadi Ketua Umum PDI yang sah
Agum bilang alasannya simpel:
“Saya cuma pengin menegakkan demokrasi yang katanya sedang digembar-gemborkan waktu itu.”
Tapi tentu aja, langkah ini bikin Soeharto dan lingkaran Cendana ill feel banget sama Agum.
Dari Komandan Kopassus ke “Pengasingan”
Walau dianggap “berulah”, Agum masih ditolerir. Beberapa bulan kemudian malah diangkat jadi Komandan Kopassus ke-13 (menggantikan Brigjen Tarub).
Tapi setahun kemudian, beliau kembali bikin heboh. Dalam Rapat Pimpinan ABRI 1994, pemerintah lagi bahas rencana menyingkirkan Megawati yang dianggap terlalu populer.
Pas dikasih kesempatan bicara, Agum nyeletuk dengan berani:
“Kalau kita anggap Megawati, Gus Dur, dan para pendukungnya sebagai musuh, berarti kita kebanyakan musuh. Padahal, kata Sun Tzu, seribu kawan masih kurang, satu musuh sudah kebanyakan.”
BOOM! Langsung deh bikin geger.
Akibatnya, Agum dicopot dari jabatan Komandan Kopassus tanggal 17 September 1994 dan diturunkan jadi Kepala Staf Kodam I Bukit Barisan di Medan. Secara karier, ini jelas demosi. Tapi Agum tetap kepala tegak.
Dukungan dari Sang Istri
Waktu itu Agum sempat down banget. Tapi istrinya, Linda Agum Gumelar, jadi penyemangat utama.
Linda bilang dengan lembut:
“Memang keputusan ini sakit, tapi hidup bukan cuma soal jabatan. Kita masih punya anak, keluarga, dan Allah pasti punya rencana terbaik.”
Ucapan itu jadi turning point buat Agum. Ia pun berangkat ke Medan dengan kepala tegak.
Sebelum berangkat, Agum bahkan sempat berteriak lantang:
“Hey, menarilah kalian di pentas sampai rakyat bosan melihat tarian kalian. Tapi besok matahari akan terbit!”
Kalimat yang melegenda banget, penuh simbol perlawanan dan optimisme.
Dari kisah ini kita belajar, loyalitas nggak selalu berarti nurut buta.
Agum Gumelar nunjukin bahwa bahkan di dalam sistem yang ketat kayak militer, masih ada ruang buat integritas, logika, dan keberanian bersuara.
Dan yang paling keren beliau tetap hormat sama negara, tapi juga berani bilang “enough is enough” kalau sesuatu udah melenceng dari nilai demokrasi. Respect, Eyang Agum!
