The Real Hero: Agus Hernoto Dibuang dari Kopassus Usai Kehilangan Kaki di Medan Tempur (1)

Ilustrasi Agus Hernoto [Gemini]
Ilustrasi Agus Hernoto [Gemini]

Jadoelers, coba deh kamu bayangin, ketika kamu uda berjuang mati-matian, berkorban sampai jiwa raga, tapi ujungnya kamu dibuang di tempat kamu mengabdi? Nyesek banget kan?

Nah itulah yang dialami sama sosok hero satu ini. Namanya Letkol Agus Hernoto. Dia udah totalitas banget berjuang demi tanah air sampai kehilangan satu kakinya pas Operasi Trikora di Irian Barat (sekarang Papua).

Udah berkorban se-all out itu, eh malah ending-nya dia ‘dibuang’ dari RPKAD (sekarang kita kenal sebagai Kopassus, guys! Baret Merah!). Sakit nggak tuh?

Dikeluarkan dari RPKAD

Pelaksanaan Operasi Pembebasan Irian Barat selesai. Banyak korban berjatuhan dari pihak tentara Indonesia. Ada yang gugur ada juga yang menjadi cacat permanen. Salah satunya adalah Agus Hernoto.

Menteri Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani mengumpulkan para prajurit yang mengalami invalid atau cacat permanen akibat pertempuran.

Ahmad Yani memberikan pilihan kepada tentara yang invalid untuk pensiun dini. Mereka yang memilih pensiun dini dibekali modal uang untuk memulai hidup baru.

Di antara semua yang hadir, Agus menjawab:

“Pak, saya tidak akan pensiun! Sampai mati saya akan tetap di Angkatan Darat.”

Saat Operasi Pembebasan Irian Barat, kaki Agus hancur terkena tertembus peluru musuh. Ia ditangkap Marinir Belanda dalam keadaan luka parah.

Selama dalam tawanan, Agus mengalami penyiksaan. Kakinya ditusuk bayonet diminta membocorkan posisi pasukan TNI di Irian Barat.

Meskipun mengalami penyiksaan selama dalam tawanan Belanda, Agus tidak mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD).

Prajurit yang menderita PTSD biasanya menampakkan sikap negatif, depresi, sulit bergaul bahkan dengan orang terdekat sekalipun.

Perlu waktu untuk memulihkan kembali kondisi psikologi tentara yang pulang dari medan perang. Hal ini tidak berlaku bagi Agus. Dia tidak berubah kecuali kaki kirinya diamputasi.

Padahal, dia juga mengalami penyiksaan berat dari tentara Belanda. Badannya penuh bekas luka.

“Di bagian kanan punggung, seperti terlihat ada lubang yang besar dan menganga, mungkin bekas luka terkena serpihan ledakan granat sewaktu perang di Irian Barat,” ujar Bob Heryanto Hernoto, anak Agus.

Pada Maret 1963, Agus dipindahkan dari jabatan komandan Team DPC ke PASI II Yon I Parako (Para Komando).

Agus lalu ditugaskan mengirim pasukan RPKAD ke Serawak, Malaysia, dalam rangka operasi Konfrontasi Malaysia.

Agus bertugas di Parako sampai akhir Maret 1965. Dia dipindahkan ke Detasemen Markas RPKAD. Agus telah menunjukkan kemampuannya sebagai prajurit meski berkaki satu. Namun, kesatuannya mengabaikan hal itu. Dia hanya sebulan di Denma RPKAD.

Pada Mei 1965, Komandan RPKAD, Kolonel Moeng Parhadimoeljo, mengeluarkan kebijakan untuk menyehatkan RPKAD.

Dalam kebijakan baru ini, dia memutuskan semua anggota yang invalid akan dikeluarkan dari RPKAD. Kebijakan ini langsung menimpa Agus, perwira operasi dalam Batalion I RPKAD yang dipimpin Benny Moerdani.

Moeng mengeluarkan Agus dari RPKAD. Agus dimutasi ke Staf Umum Angkatan Darat III Bagian Organisasi.

Benny naik darah mendengar kemungkinan Agus harus dikeluarkan dari RPKAD karena invalid. Anak buahnya itu korban pertempuran, kehilangan satu kaki akibat melaksanakan perintah operasi.

Meskipun invalid, tenaga Agus masih bisa dimanfaatkan oleh kesatuannya dengan memuaskan. Bahkan, dia juga masih bisa menjalankan tugas selaku perwira operasi dengan cakap.

Benny mempertanyakan kebijakan tersebut: mengapa bakat baik seperti Agus harus dikeluarkan dari RPKAD hanya dengan alasan yang tidak masuk akal?

Mengapa tidak ditempuh kebijakan, misalnya, para anggota invalid dimasukkan ke dalam tugas staf?

Sementara itu. Benny melihat, banyak perwira baru yang belum pernah mengikuti latihan komando secara benar malah sudah dijadikan pasukan Baret Merah.

Manakah yang lebih pantas menjadi anggota RPKAD? Mereka yang sudah jelas mengorbankan tubuhnya dalam mengemban tugas operasi?

Ataukah para perwira baru yang secara tiba-tiba saja dengan berbagai macam koneksi mendadak sudah bisa menerima Baret Merah?

Benny mempermasalahkan kebijakan baru yang dirumuskan sejumlah perwira staf tersebut dalam rapat staf di markas RPKAD di Cijantung pada akhir 1964.

Dia menegaskan bahwa dirinya tidak rela kalau Agus harus dikeluarkan dari RPKAD. Benny mengenang pengalamannya dengan Agus dan menyatakan pembelaannya.

Menteri/Pangad Letjen TNI Achmad Yani, mengetahui kritikan Benny kepada kebijakan komandannya. Yani menyalahkan Benny yang mengkritisi kebijakan Komandan RPKAD.

Benny dinilai tidak beretika karena menyampaikan penilaian atas kebijakan komandannya. Yani dan Benny terlibat pembicaraan panas dalam bahasa Belanda.

Sampai akhirnya Yani memindahkan Benny Moerdani dari RPKAD ke Kostrad secara lisan.

About the author: redaksi

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *