The Real Hero: Agus Hernoto Dibuang dari Kopassus Usai Kehilangan Kaki di Medan Tempur (2)

Ilustrasi Agus Hernoto. [ChatGPT]
Ilustrasi Agus Hernoto. [ChatGPT]

Setelah keluar dari RPKAD, Agus Hernoto bergabung dengan Resimen Tjakrabirawa, Pasukan pengawal Presiden Sukarno.

RPKAD yang berada di Tjakrabirawa dipimpin oleh Soetaryo. Dia kemudian mengajak Agus bergabung dengan Tjakrabirawa.

Di Tjakrabirawa, Agus bertugas seperti Dandenma (Komandan Detasemen Markas) untuk mengurusi tamu, mobil, dan lain-lain.

Namun, Agus tidak nyaman berada dalam pasukan pengawal Presiden Sukarno itu.

“Setiap pulang kerja dia selalu murung. Sepertinya dia tidak senang di Tjakrabirawa,” kata Ida, istri Agus.

Di saat bersamaan, Ali Murtopo, perwira pelaksana Operasi Khusus (Opsus) meminta Aloysius Soegijanto untuk mencari orang yang bisa mengurus orang-orang yang berkepentingan dengan Opsus seperti menerima orang-orang di airport.

Gijanto lalu mengusulkan Agus di Tjakrabirawa. Agus Hernoto dianggap sudah biasa mengurusi seperti itu di Detasemen Markas Tjakrabirawa.

Agus lalu keluar dari Tjakrabirawa dan menjadi Dandema (Komandan Detasemen Markas) Opsus.

“Saat Agus bertugas di Tjakrabirawa, saya sering meminta Agus untuk membantu setiap kegiatan Opsus,” kata Soegijanto.

Ali Moertopo meminta Agus bergabung dengan Opsus karena sering membantu Opsus.

“Dulu Pak Ali bilang ke saya ajak dia (Agus) bergabung, lalu saya bilang ke Agus. Akhirnya, Agus pun berminat gabung dengan Opsus dan meninggalkan satuannya Tjakrabirawa,” kata Soegijanto.

Menurut Soegijanto, saat Opsus menjalankan operasi menghentikan Konfrontasi dengan Malaysia, Opsus seringkali kekurangan staf yang menjaga di Ibukota.

Saat seluruh anggota sedang sibuk di pos masing-masing di berbagai negara, terkadang tidak terdapat staf di Jakarta.

Padahal, perlu ada orang yang aktif di Ibukota karena banyak relasi dari negara-negara lain yang perlu diakomodasi keperluannya ketika berkunjung di Indonesia.

“Pernah suatu hari ada utusan dari negara Israel ingin membangun hubungan dengan Indonesia lalu ingin bertemu dengan Pak Ali Moertopo. Demi menjaga kerahasiaan, saya meminta tolong Agus untuk menjemput utusan tersebut di lapangan udara Kemayoran dan membawa alat komunikasi. Setelah dijemput kemudian diantarkan ke rumah singgah yang berada di wilayah Menteng,” kata Soegijanto.

Sebagai Dandenma Opsus, Agus Hernoto lebih banyak menghabiskan waktunya di markas Opsus di Jalan Raden Saleh No. 52 Menteng, Jakarta.

Rumah ini seperti rumah pada umumnya. Tidak ada plang yang menunjukkan bahwa rumah itu adalah markas organisasi yang berkuasa dan ditakuti: Opsus.

Agus biasanya bekerja dari pagi hingga larut malam. Mejanya terletak paling dekat dengan pintu masuk ruangan. Bagi siapapun yang ingin menemui Ali Murtopo harus melalui Agus.

Agus bertanggung jawab terhadap keperluan logistik dan pendukung lainnya untuk berbagai misi intelijen.

Salah satu tugas awal Agus di Opsus adalah membantu A.R. Ramly di Singapura, dalam penyelesaian Konfrontasi dengan Malaysia melalui jalur diplomatik.

Selain itu, Agum Gumelar juga pernah menemui Agus di markas Opsus.

“Ketika itu Opsus perlu perwira dari Kopassus,” kata Agum yang waktu itu berpangkat Letnan Satu.

Agum ditugaskan Kopassus untuk bertugas di Opsus dan menghadap dengan pakaian militer.

“Letnan Agum Gumelar siap menghadap!” Agum melapor dan memberi hormat militer kepada Agus.

Agus dengan kaki diangkat ke meja menatap Agum dengan tajam.

Agus melihat Agum dari kaki hingga kepala. Sambil manggut-manggut, Agus berkata, “Ini boleh, ya boleh.”

“Waduh galak juga nih komandan,” pikir Agum.

Setelah melapor, Agus memberitahu bahwa Agum akan dikirim ke Malaysia selama dua tahun sekaligus belajar bahasa Tionghoa.

Pulang dari Malaysia, Agum yang sudah fasih berbahasa Tionghoa kemudian dipercaya menjadi ajudan Ali Moertopo.

“Prestasi yang ditunjukkan oleh Pak Agus menjadikan dirinya sebagai tumpuan utama dari Benny Moerdani dan Ali Moertopo dalam setiap operasi di medan tempur operasi intel,” kata Agum.

Sebagai Dandenma Opsus, Agus diberi tugas oleh Ali Moertopo untuk mengumpulkan dan menyediakan dana dalam rangka kelancaran operasi Opsus.

Setiap operasi Opsus harus didukung dana besar karena operasi dilakukan di dalam dan luar negeri.

Sebagai organisasi super body, Opsus menjadi jalan keluar bagi setiap instansi negara yang menemui kesulitan dalam kegiatan di dalam maupun luar negeri.

Maka, Agus harus mencari dana dari pihak mana pun yang ingin berkontribusi. Agus menghubungi sejumlah pengusaha papan atas yang bersedia membantu Opsus.

Peran Agus sangat sentral dalam Opsus yang banyak melakukan kegiatan tertutup atau rahasia.

Dia menampung banyak dana yang masuk dan mengeluarkannya untuk kebutuhan logistik dan operasional Opsus.

“Uang yang ada banyak. Tugas you menjaga jangan sampai ada uang hilang,” ujar Ali Moertopo kepada Agus.

Peranan Agus di Opsus sangat strategis karena dia dipercaya mengelola uang yang sangat besar mengingat operasi intelijen itu tertutup dan memerlukan dana yang tidak sedikit.

“Pilihan kepada Pak Agus sebagai orang yang mengurus logistik adalah pilihan tepat. Bayangkan bila ada orang yang tidak bertanggung jawab memegang kekuasaan itu maka orang itu akan kaya sehingga perlu orang yang dapat dipercaya seperti Pak Agus,” ujar Benny, perwira operasional yang pernah bertugas di Opsus.

Apalagi waktu itu, lanjut Benny, dukungan kerja intelijen Indonesia masih di bawah standar, sementara tanggung jawabnya sangat tinggi.

“Setiap ada keperluan mengenai operasi pasti akan dilanjutkan kepada Agus sebagai perwira yang mengurusi misi-misi Opsus,” kata Soegijanto.

“Semua yang pernah berada dalam Opsus terkesan dengan kerja Agus yang cekatan sehingga setiap kebutuhan misi pasti segera terpenuhi dengan cepat,” cerita Joseph yang sering bertemu Agus untuk mengurus berbagai logistik pendukung operasi.

“Saya sebagai operator hanya terima persiapan matang dari Pak Agus. Sebagai Dandenma, dia mengatur semuanya dari mulai visa sampai paspor meski terkadang datanya kurang benar.”

Siapa pun, dari pengusaha sampai pejabat-pejabat di kementerian, misalnya Kementerian Luar Negeri, harus melapor ke Opsus dulu sebelum bertugas ke luar negeri.

“Mereka, termasuk para pengusaha yang menjadi donatur semua bertemu Pak Agus di Jalan Raden Saleh, memberikan bantuan kepada pemerintah,” kata Benny.

“Begitu istimewanya Opsus,” pungkas Joseph, “semua instansi meminta bantuan Pak Agus, sampai ada ungkapan Agus itu Opsus, Opsus itu Agus.”

About the author: redaksi

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *